www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
Dunia Tak Selebar Daun Kentang
21:19 // 0 komentar // tafrihan // Category: Realita //Dieng, Wonosobo Banjarnegara 19-05-2011. Ada hal menarik ketika crew diengplateau.com berbincang dengan juru kunci gunung Dieng, Mbah Rusmanto, yaitu soal revolusi alam, Revolusi alam merupakan kejadian luar biasa yang akan terjadi di Kawasan Dieng dan Indonesia secara umum , dimana kejadian tersebut merupakan proses pembersihan oleh Sang Penguasa Alam Raya, yang akan memusnahkan orang –orang bersalah dengan berbagai cara yang sulit untuk dipahami manusia, yang orang-orang tersebut tidak terjangkau atau tersentuh hukum, dan alam/lingkungan akan mengalami permasalahan pelik, kemudian akan datang tatanan dunia baru dimana pemimpin dan pejabat yang jujur, amanah , kreatif dan berpikir untuk kepentingan bangsa akan muncul membawa bangsa Indonesia menuju kemakmuran.Revolusi alam tersebut akan dimulai dari Dieng,lanjutnya.
Proses itu sepertinya sedang berlangsung khususnya yang terkait dengan lingkungan, Dimana masyarakat Dieng sedang mengalami permasalahan pelik,budidaya sayuran hortikultura mengalami kesulitan besar, dimana bibit kentang saja sekarang sudah sangat langka, penangkar tidak mampu menyediakan benih yang dibutuhkan, bahkan sampai mencari ke provinsi lain juga mengalami hal serupa, disisi lain harga sarana produksi pertanian terus mengalami kenaikan, dan hasilnya banyak petani yang saat ini lebih memilih untuk menganggur dengan pemasukan keuangan yang tidak jelas.
Dapat kita prediksi sendiri kalau hal ini terus terjadi dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Dan sudah sepantasnya kita terus berpikir dan membaca tanda –tanda alam ini karena di Kitab Suci juga banyak sekali disinggung soal berpikir dan membaca.
Tapi Dunia tak selebar daun Kentang, masih ada harapan dimana-mana, Bumi Allah sangat luas, Wonosobo luas, Banjarnegara luas, Jawa Tengah juga luas terlebih lagi Indonesia. Atau kalau kita tidak percaya mungkin kita adalah bagian dari revolusi alam tersebut, yang akan ikut tersapu proses pembersihan.
Tertarik dengan teori bahwa masyarakat Dieng adalah masyarakat yang paling sulit untuk pindah, karena sangat cinta dengan Dieng dan daya juangnya rendah, crew Diengplateau.com mencoba menelusuri jejak orang-orang yang sudah pindah ketempat lain, dari hasil penelusuran awal kemudian menemukan informasi bahwa banyak orang yang sudah pindah dan ternyata ditempat baru dapat menemukan kehidupan yang lebih baik.
Kami menuju ke Desa Kauman Kec.Kaliwiro Kab. Wonosobo sekitar 25 Km dari Kota wonosobo,dan Kyai Mashar Jamil (35 th) nama orang yang kami temui, dia merupakan kyai muda berasal dari desa Tieng Kecamatan Kejajar, di desa Tieng dulu dia merintis pendirian pesantren Irsyadul Mubtadi’ien dan koperasi pesantren, banyak anak muda yang hobynya keluyuran dan mengarah pada kenakalan remaja yang akhirnya mau mengaji bersama dia saat di Desa Tieng, masa muda mashar Jamil dihabiskan di pesantren –pesantren mulai dari Jawa Timur sampai ke Banten, dan cara berpikirnya juga moderat, maju dan kreatif , jauh dari bayangan kami sebelumnya, dia sangat peduli dengan alam yang hal ini mungkin didapat dari pemahaman dia soal kitab-kitab kuning yang dia pelajari, sewaktu masih di Tieng juga sudah melakukan upaya konservasi lahan dilahan miliknya, dan lahan milik adiknya juga pernah ditawarkan untuk diperlakukan dengan cara apapun yang sesuai dengan kaidah konservasi.
Di Desa Kauman Kec.Kaliwiro, dia juga mendirikan pesantren, yang saat ini mendidik santri-santri usia SD- SMP, yang juga masih bersekolah, dan sebagian besar soal konsumsi santri juga ditanggung oleh dia sendiri, lebih jauh dia menuturkan dulu dia datang ke tempat ini tidak bermodal apa-apa hanya keyakinan bahwa Allah Maha Kaya, dan bumi Allah Luas, dulu hanya berpikir mungkin untuk tahap awal untuk makan saja agak kesulitan, dan dengan ketekunan serta keyakinan akan rizqi Allah, ahirnya saat ini dia sudah memiliki Tanaman Kayu yang cukup banyak, tanaman pisang yang oleh masyarakat Dieng sangat disepelekan, kemudian ada juga dua buah kolam ikan, ditempat ini dia membentuk kelompok tani, yang bergerak dalam budidaya pisang dan kayu, dan dia masih punya obsesi untuk mengembangkan usaha ternak yang akan dilatihkan kepada santri-santrinya, dengan harapan agar nanti ketika santrinya keluar dari pesantren sudah memiliki ketrampilan dan tidak selalu tergantung Kepada orang lain. Kyai Mashar Jamil ini sebenarnya dari dulu sering juga dikunjungi masyarakat kawasan Dieng yang ingin konsultasi tentang berbagai hal, dan untuk urusan ekonomi salah satu nasehatnya adalah hijrah dan dia tidak hanya asal bicara akan tetapi membuktikan dan melakukan sendiri. Walaupun tidak hidup mewah ditempat baru, akan tetapi dengan kesahajaan dan cara hidup sederhana yang dia lakukan dia mengaku bahagia dengan keadaan sekarang , dapat berbagi ilmu dan rizqi yang dia peroleh.
Beberapa cerita sukses orang yang pindah dari kawasan Dieng ternyata masih banyak, akan tetapi karena berbagai keterbatasan. diengplateau.com tidak mungkin dapat menelusuri beberapa nara sumber sampai diluar pulau Jawa, hanya saja dari sumber lain seperti keluarga/ teman dekat, dapat diperoleh informasi bahwa beberapa orang yang sebetulnya cukup sukses di kawasan Dieng saat ini sudah banyak juga yang memiliki lahan di pulau Sumatera atau di Kalimantan dan beralih dari petani hortikultura menjadi petani perkebunan dan ada juga yang di persawahan yang ternyata mereka semua bisa hidup dan bertahan ditempat baru mereka, dan banyak juga yang dulunya hanya bermodal tekat dan keyakinan sekarang sudah berhasil, karena hanya tinggal menunggu buah-buahan panen atau menebang kayu yang dia tanam, dan ada juga yang tinggal menerima setoran dari kebun karet yang jumlahnya mencapai puluhan hektar.
Kesulitan ekonomi di Kawasan Dieng yang sebagian besar mengandalkan pertanian kentang ternyata dapat diatasi ditempat lain, ditanah harapan baru, karena dunia memang tak selebar daun kentang.
tafrihan.diengplateau.com
Related posts :
0 komentar for this post
Leave a reply
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional









Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau