www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
21:19 // 0 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Karya Tulis Ilmiah //
Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
Strategi untuk memulihkan kawasan Dieng menjadi wisata unggulan di era globalisasi
yang pro lingkungan.
Strategi untuk memulihkan kawasan Dieng menjadi wisata unggulan di era globalisasi
yang pro lingkungan.
Oleh : Riki Fauzi Rahman
Alamat : Jl. Leuwi Anyar No. 25 Babakan Kalangsari Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat
Sekolah : SMA Negeri 2 Tasikmalaya. Jalan R.E Martadinata No. 261 Tasikmalaya
Alamat : Jl. Leuwi Anyar No. 25 Babakan Kalangsari Cipedes, Tasikmalaya, Jawa Barat
Sekolah : SMA Negeri 2 Tasikmalaya. Jalan R.E Martadinata No. 261 Tasikmalaya
Manusia dan lingkungan merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya selalu membentuk hubungan linier dan harmonis. Tetapi dewasa ini keharmonisan itu tidak terlihat lagi. Keharmonisan itu lenyap ketika manusia dihadapkan dengan peradaban modern yang ditandai dengan munculnya revolusi industri sehingga berimplikasi membawa manusia sebagai pemeran utama di muka bumi. Manusia tidak lagi di atur oleh alam. Bahkan manusia dapat merekayasa alam sehingga takluk pada keinginan mereka. Akibatnya muncullah kerusakan dalam segala aspek kehidupan.
Kerusakan yang dianggap vital dewasa ini yaitu kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan merupakan prahara karena jika lingkungan rusak segala aspek kehidupan akan terhambat bukan hanya stagnan tetapi juga bersifat destruksi. Jika lingkungan rusak semua makhluk hidup di dunia pun akan menderita karena lingkungan adalah habitat dan sumber penghidupan semua makhluk hidup di muka bumi ini.
Kerusakan lingkungan yang selama ini terjadi sebenarnya terletak pada paradigma manusia yang masih beranggapan bahwa mereka penguasa lingkungan atau lebih dikenal dengan paham antroposentris. Mengutip dari Wikipedia, kata antroposentris berasal dari gabungan bahasa Yunani antropos (manusia) dan Latin centrum (pusat). Jadi antroposentris berpandangan bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta dan hanya manusia yang mempunyai nilai sementara alam dan segala isinya sekedar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan mereka.
Kerusakan yang dianggap vital dewasa ini yaitu kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan merupakan prahara karena jika lingkungan rusak segala aspek kehidupan akan terhambat bukan hanya stagnan tetapi juga bersifat destruksi. Jika lingkungan rusak semua makhluk hidup di dunia pun akan menderita karena lingkungan adalah habitat dan sumber penghidupan semua makhluk hidup di muka bumi ini.
Kerusakan lingkungan yang selama ini terjadi sebenarnya terletak pada paradigma manusia yang masih beranggapan bahwa mereka penguasa lingkungan atau lebih dikenal dengan paham antroposentris. Mengutip dari Wikipedia, kata antroposentris berasal dari gabungan bahasa Yunani antropos (manusia) dan Latin centrum (pusat). Jadi antroposentris berpandangan bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta dan hanya manusia yang mempunyai nilai sementara alam dan segala isinya sekedar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan mereka.
Manusia dianggap di luar, di atas, dan terpisah dari alam. Bahkan manusia dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh melakukan apa saja. Cara pandang seperti itu melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif tanpa mempedulikan alam dan segala isinya yang dianggap tidak mempunyai nilai dan manfaat bagi dirinya sendiri. Implikasinya muncullah berbagai aktivitas manusia yang dapat merusak lingkungan, seperti illegal loging, perburuan liar, pembuangan sampah di sembarang tempat, pemanfaatan sumber daya alam secara berlebih, dan pembukaan area hutan untuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, ataupun perindustrian.
Potret nyata kerusakan lingkungan di Indonesia salah satunya adalah Dieng. Dieng adalah sebuah dataran tinggi dengan ketinggian 2565 mdpl (meter di atas permukaan laut). Dataran ini terletak antara kapubaten Banjarsari dan Wonosobo berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Sumbing. Kawasan ini merupakan salah satu objek wisata kebanggan negeri kita dan bernilai sejarah tinggi. Keindahannya penuh eksotisme dengan eksplorasi yang menakjubkan. Namun wisata yang lebih dikenal negeri di atas awan itu kini tidak seperti dulu lagi.
Kawasan Dieng yang tadinya berupa hutan dengan ditumbuhi pepohonan raksasa kini berubah menjadi lahan perkebunan kentang, tanaman perdu yang kerdil. Dengan perubahan ini tentunya menimbulkan berbagai kerusakan yang titik tumpunya terjadi bencana alam.
Dieng adalah dataran tinggi apabila tubuhnya tidak lagi diselimuti rimbunnya pepohonan, maka kerawanan akan bencana longsor sangat potensial menerpa. Apalagi jika diganti dengan kawasan sentra tanaman kentang yang notabene merupakan tanaman perdu yang berakar serabut dimana kemampuannya menahan air dan tanah sangat kecil, maka ketika hujan datang tidak ada lagi area resapan air yang cukup baik. Akibatnya tanah yang tergerus air terus menerus menimbulkan longsor dan banjir pada daerah yang berada di bawahnya.
Di samping itu, ketidakmampuan kentang menahan air juga menimbulkan kandungan air dalam tanah sedikit, akibatnya penduduk yang berada di sekitar Dieng akan kekurangan air bersih. Lebih tragisnya lagi, karena kandungan air dalam tanah sedikit maka tanah juga menjadi tidak subur dan kering implikasinya penanam kentang di kawasan tersebut untuk mempertahankan kelangsungan usahanya menggunakan pestisida dan pupuk anorganik lain. Air bersih yang berkurang berganti menjadi zat racun. Ketika air dialirkan ke rumah warga dan dikonsumsi itu akan sangat membahayakan dan menimbulkan berbagai penyakit. Ini akan sangat mengancam kelangsungan hidup mereka.
Apabila masalah di atas tidak segera di atasi, maka bukan hanya lingkungan yang rusak melainkan semua komponen pendukung lingkungan baik yang bersifat biotik ataupun abiotik terancam punah dan rusak. Disini kita tidak perlu mengintrepretasikan siapa pihak yang disalahkan. Perlu adanya kerjasama baik antar semua komponen masyarakat, seperti masyarakat, investor, kaum intelektual, tokoh agama, pers, lembaga swadaya masyarakat, departemen keuangan dan pemerintah.
Kerjasama baik terealisasikan jika segenap komponen masyarakat mengubah cara pandang mereka terhadap lingkungan, yaitu mengubah paham antroposentris menjadi ekosentris.
Apa itu ekosentris ? Mengutip dari Wikipedia, kata ekosentris berasal dari gabungan bahasa Yunani ecos (lingkungan) dan Latin centrum (pusat). Teori ini memberikan pemahaman bahwa manusia merupakan bagian dari alam sehingga manusia tidak berhak untuk merusak lingkungan. Sehingga apabila paham ini menyentuh semua komponen masyarakat, maka akan terjadi perubahan sikap dan prilaku mereka terhadap lingkungan.
Masyarakat yang berwawasan ekosentris akan menjadikan lingkungan sebagai ruh dalam aktivitasnya. Keuntungan ekologis akan lebih diprioritaskan daripada keuntungan ekonomis.
Investor yang berwawasan ekosentris dalam menginvestasikan modalnya akan penuh pertimbangan. Mereka menerapkan prilaku selektif dalam menanamkan modalnya terhadap industri yang tidak merusak lingkungan.
Kaum intelektual yang berwawasan ekosentris tidak akan berdiam diri melihat kerusakan lingkungan. Namun akan proaktif dalam upaya penanggulangan, pengelolaan, dan pengawasan lingkungan misalnya memberikan contoh baik dan memberikan pengetahuan tentang bahaya kerusakan lingkungan kepada masyarakat awam.
Tokoh agama yang paham ekosentris akan memberikan tauladan dan mengajak umatnya memelihara lingkungan karena agama manapun di dunia ini tidak mengizinkan pemeluknya untuk merusak lingkungan. Agama menjadi sarana yang ampuh untuk memasarkan paradigma ekosentrisme. Karena itu pengkajian ekosentrisme dalam agama menjadi keniscayaan.
Pers yang berwawasan ekosentris akan memberitakan suatu peristiwa secara obyektif. Perisitiwa kerusakan lingkungan tidak hanya dimaknai pada dampaknya tetapi juga sebabnya sehingga masyarakat disadarkan akan hak dan kewajibannya.
LSM yang yang mengerti dan paham ekosentris akan memplopori pemberdayaan masyarakat dibidang lingkungan misalkan mengkampanyeukan industri ramah lingkungan, memelihara kearifan masyarakat local, dan mengembangkan program pelestarian keanekaragaman hayati yang berada didaerahnya. Departemen keuangan yang berwawasan ekosentris tidak akan sungkan mengeluarkan biaya untuk pencegahan lingkungan, karena upaya pencegahan lebih murah dibanding upaya penanggulangan dampak lingkungan.
Pemerintah yang berpandangan ekosentris akan memiliki pandangan jauh ke depan sehingga upaya-upaya penyelamatan lingkungan akan dikaji secara mendalam. Segala aktivitas masyarakatnya akan diperhatikan secara serius dan melihat dampak baik dan buruknya terhadap lingkungan. Perannya sebagai regulator akan dijalankan dengan bijak termasuk memberikan denda kepada orang atau instansi yang merusak lingkungan tanpa pandang bulu.
Apabila paham ekosentris sudah terpatri dan tertanam dalam setiap komponen masyarakat, maka segala aktivitas masyarakat yang berada di kawasan Dieng akan mempertimbangkan dampak lingkungan sehingga Dieng yang selama ini mengalami kerusakan berangsur pulih. Dieng tidak lagi dianggap sebagai beban permasalahan lingkungan namun dapat dijadikan investasi jangka panjang yang menguntungkan semua pihak. Biaya penanggulangan pencemaran pun dapat dialokasikan untuk memberantas ke kemiskinan warga disekitar lokasi tersebut dan tentunya ini sangat mempengaruhi tingkat kesejahteraan penduduk sekitar.
Ketika cara pandang masyarakat terhadap lingkungan sudah berubah, strategi untuk menjadikan Dieng sebagai wisata unggulan rasanya belum optimal. Munculnya era globalisasi menjadikan Dieng sebagai tantangan sekaligus peluang untuk dijadikan objek wisata dalam skala besar dan dapat dijadikan pusat kepariwisataan dunia (main touris market). Namun dengan persaingan yang semakin kompetitif di kawasan destinasi pariwisata dunia diperlukan strategi yang tepat dan langkah cerdik untuk dapat menarik pengunjung sebanyak mungkin. Langkah yang tepat bisa dimulai dari perbaikan strategi promosi produk wisata.
Strategi Promosi merupakan usaha pertama yang perlu dikelola demi kemajuan pariwisata Dieng. Untuk dapat mendunia, strategi promosi yang tepat yaitu dengan mengembangkan akses informasi yang lingkupnya mengglobal misalnya melalui internet. Meluasnya jaringan internet secara masal akan menciptakan mekanisme informasi yang lengkap dan memudahkan wisatawan untuk menyeleksi kawasan-kawasan yang akan mereka kunjungi. Melalui akses informasi ini, kita promosikan berbagai keunggulan produk wisata Dieng.
Berubahnya paradigma masyarakat terhadap lingkungan menjadikan kekayaan wisata Dieng kembali pulih dan dengan strategi promosi yang tepat akan menjadikan Dieng sebagai kawasan wisata yang mengglobal. Solusi terakhir, karena kawasan Dieng terletak antara kabupaten Banjarsari dan Wonosobo, maka kerjasama antara kedua daerah tersebut mutlak diperlukan sehingga dapat diperoleh hasil pembangunan yang maksimal. Terlebih lagi dengan diberlakukannya kebijakan otonomi daerah semakin memperkuat kedua daerah tersebut untuk bebas berekspresi mempromosikan potensi daeranya semenarik mungkin.
Pada akhirnya, strategi untuk memulihkan Dieng menjadi wisata unggulan tidak mustahil lagi, secara riil Dieng akan mampu memberikan aset-aset kekayaan maupun sumber daya alam yang dimilikinya sehingga objek wisata ini dapat meningkatkan taraf perekonomnian masyarakat sekitar yang titik tumpunya dapat meningkatkan pembanguanan perekonomian nasional.
Pers yang berwawasan ekosentris akan memberitakan suatu peristiwa secara obyektif. Perisitiwa kerusakan lingkungan tidak hanya dimaknai pada dampaknya tetapi juga sebabnya sehingga masyarakat disadarkan akan hak dan kewajibannya.
LSM yang yang mengerti dan paham ekosentris akan memplopori pemberdayaan masyarakat dibidang lingkungan misalkan mengkampanyeukan industri ramah lingkungan, memelihara kearifan masyarakat local, dan mengembangkan program pelestarian keanekaragaman hayati yang berada didaerahnya. Departemen keuangan yang berwawasan ekosentris tidak akan sungkan mengeluarkan biaya untuk pencegahan lingkungan, karena upaya pencegahan lebih murah dibanding upaya penanggulangan dampak lingkungan.
Pemerintah yang berpandangan ekosentris akan memiliki pandangan jauh ke depan sehingga upaya-upaya penyelamatan lingkungan akan dikaji secara mendalam. Segala aktivitas masyarakatnya akan diperhatikan secara serius dan melihat dampak baik dan buruknya terhadap lingkungan. Perannya sebagai regulator akan dijalankan dengan bijak termasuk memberikan denda kepada orang atau instansi yang merusak lingkungan tanpa pandang bulu.
Apabila paham ekosentris sudah terpatri dan tertanam dalam setiap komponen masyarakat, maka segala aktivitas masyarakat yang berada di kawasan Dieng akan mempertimbangkan dampak lingkungan sehingga Dieng yang selama ini mengalami kerusakan berangsur pulih. Dieng tidak lagi dianggap sebagai beban permasalahan lingkungan namun dapat dijadikan investasi jangka panjang yang menguntungkan semua pihak. Biaya penanggulangan pencemaran pun dapat dialokasikan untuk memberantas ke kemiskinan warga disekitar lokasi tersebut dan tentunya ini sangat mempengaruhi tingkat kesejahteraan penduduk sekitar.
Ketika cara pandang masyarakat terhadap lingkungan sudah berubah, strategi untuk menjadikan Dieng sebagai wisata unggulan rasanya belum optimal. Munculnya era globalisasi menjadikan Dieng sebagai tantangan sekaligus peluang untuk dijadikan objek wisata dalam skala besar dan dapat dijadikan pusat kepariwisataan dunia (main touris market). Namun dengan persaingan yang semakin kompetitif di kawasan destinasi pariwisata dunia diperlukan strategi yang tepat dan langkah cerdik untuk dapat menarik pengunjung sebanyak mungkin. Langkah yang tepat bisa dimulai dari perbaikan strategi promosi produk wisata.
Strategi Promosi merupakan usaha pertama yang perlu dikelola demi kemajuan pariwisata Dieng. Untuk dapat mendunia, strategi promosi yang tepat yaitu dengan mengembangkan akses informasi yang lingkupnya mengglobal misalnya melalui internet. Meluasnya jaringan internet secara masal akan menciptakan mekanisme informasi yang lengkap dan memudahkan wisatawan untuk menyeleksi kawasan-kawasan yang akan mereka kunjungi. Melalui akses informasi ini, kita promosikan berbagai keunggulan produk wisata Dieng.
Berubahnya paradigma masyarakat terhadap lingkungan menjadikan kekayaan wisata Dieng kembali pulih dan dengan strategi promosi yang tepat akan menjadikan Dieng sebagai kawasan wisata yang mengglobal. Solusi terakhir, karena kawasan Dieng terletak antara kabupaten Banjarsari dan Wonosobo, maka kerjasama antara kedua daerah tersebut mutlak diperlukan sehingga dapat diperoleh hasil pembangunan yang maksimal. Terlebih lagi dengan diberlakukannya kebijakan otonomi daerah semakin memperkuat kedua daerah tersebut untuk bebas berekspresi mempromosikan potensi daeranya semenarik mungkin.
Pada akhirnya, strategi untuk memulihkan Dieng menjadi wisata unggulan tidak mustahil lagi, secara riil Dieng akan mampu memberikan aset-aset kekayaan maupun sumber daya alam yang dimilikinya sehingga objek wisata ini dapat meningkatkan taraf perekonomnian masyarakat sekitar yang titik tumpunya dapat meningkatkan pembanguanan perekonomian nasional.
Tentang Penulis
Nama Lengkap : Riki Fauzi Rahman
Alamat : Jl. Leuwi Anyar No. 25 Babakan Kalangsari Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat
HP No. : 085295898xxx
e-mail : Ricky_faranz(at)yahoo.com
Tempat/Tanggal Lahir : Tasikmalaya, 7 April 1994
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Sekolah : SMA Negeri 2 Tasikmalaya
Alamat : Jl. Leuwi Anyar No. 25 Babakan Kalangsari Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat
HP No. : 085295898xxx
e-mail : Ricky_faranz(at)yahoo.com
Tempat/Tanggal Lahir : Tasikmalaya, 7 April 1994
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Sekolah : SMA Negeri 2 Tasikmalaya
Prestasi
- Juara I Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi SMA tingkat kabupaten/kota 2011
- Finalis OSP tingkat Provinsi Jawa Barat bidang Astronomi 2011
- Juara 2 Lomba Karya Tulis Siswa (LKTS) SMA tingkat Jawa dan Sumatera 2011 dalam rangka dies natalis emas FISIP Universitas Khatolik Parahyangan ke-50.
- Finalis Debat Fisika dalam acara Physics Great Challenge Days 2010
Related posts :
0 komentar for this post
Leave a reply
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional










Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau