www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
Penanaman Pinus dan Kentang secara Proporsional
20:00 // 0 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Karya Tulis Ilmiah //
Penyelamatan Kawasan Dieng
Dengan Penanaman Pinus dan Kentang secara Proporsional
Oleh : Slamet Liana Rahmasari
Alamat : Jalan Raya Maospati - Magetan 63392 No. 999 Kec. Maospati Kab. Magetan Jawa Timur
Sekolah : SMAN 1 MAOSPATI
Dieng, pesona maupun panoramanya tiada terkira sehingga tak mampu terungkap dengan kata-kata. Setiap mata memandang dan orang-orang yang berkunjung ke sana tentu tergoda oleh keindahannya, sehingga ingin rasanya mereka kembali untuk menikmati keindahan panorama tersebut. Sehubungan dengan hal itu maka jumlah pengunjung Dieng dari tahun ke tahun terus meningkat.
Dieng merupakan salah satu kawasan yang berada di wilayah kabupaten Wonosobo dan kabupaten Banjarnegara. Dataran tinggi Dieng tersebut terletak di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Secara astronomis Dieng berada di ketinggian rata-rata 2.000 m di atas permukaan laut. Suhunya sejuk mendekati dingin, berkisar 15 - 20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Secara keseluruhan Dieng mempunyai luas hutan yaitu 4.256,80 ha pada ketinggian berkisar 1607 m sampai dengan 2093 m.
Bagaimana kondisi Dieng sekarang? Ternyata Dieng telah mengalami degradasi lingkungan yang parah. Kerusakannya kini telah mencapi 1153,10 ha (Data Statistika Perum Perhutani Unit Jawa Tengah, 2004). Kerusakan tersebut terjadi karena tindakan masyarakat yang semena-mena pada hutan. Mereka menjarah hutan dan menebangnya secara sembarangan tanpa memperdulikan masa depan kawasan hutan tersebut. Keberadaan pemerintah melalui Dinas Kehutanan, tentu harus ikut bertanggungjawab atas degradasi yang dimaksud. Saat ini pemerintah telah menggelar kegiatan talkshow, seminar tentang pelestarian lingkungan. Namun langkah pemerintah tidak bisa berhenti sampai di sini, melainkan perlu tindakan dan program yang nyata untuk menyelesaikan permasalahan ini. Jika penebangan pohon dibiarkan secara meluas akan dapat mengganggu ekosistem di Dieng. Bukankah sekarang banyak ditemukan flora dan fauna yang langka di sana? Di samping itu banyak pula telaga tempat wisata mulai mengering. Sebagai contoh, Telaga Siterus yang airnya mulai menurun.
Selama ini masyarakat Dieng memanfaatkan lahan sekitar untuk menanam kentang. Dieng bagi masyarakat sangatlah berarti sebagai mata pencaharian. Selain itu kentang hidup dalam jangka waktu yang pendek sehingga hasil tanamnya dapat segera digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena pola tanam kentang termasuk mudah, maka hampir semua masyarakat Dieng menanam tumbuhan umbi – umbian kentang tersebut.
Kentang merupakan jenis tanaman perdu yang mempunyai akar serabut. Kemampuan menahan air dan tanah akibat erosi sangat kecil. Jika pola penanaman kentang dibiarkan terus menerus maka kerusakan ekosistem akibat hilangnya zat hara tanah yang tidak tertahan oleh akar tanaman semakin besar. Selain itu akan membuat kandungan air tanah akan semakin menipis. Apalagi penanaman kentang tersebut berbibit hibrida, maka unsur hara yang terserap sangat besar, sehingga akan memacu sebuah konsekuensi yaitu penggunaan pupuk serta pestisida anorganik yang semakin meningkat. Dari sederetan peristiwa itu diprediksi bahwa pola-pola tanam seperti itu akan berakibat pada unsur zat hara akan selalu menipis. Oleh karena itu sangat dimungkinkan bahwa dataran tinggi Dieng akan terus menjadi tandus.
Hal di atas membuktikan bahwa eksploitasi lahan hutan Dieng untuk ditanami kentang secara berlebih jelas merugikan, terutama pada keselamatan lingkungan kawasan Dieng sendiri. Oleh karena itu fungsi hutan harus segera dikembalikan seperti semula. Adapun fungsi hutan tersebut antara lain dapat menghasilkan oksigen untuk bernafas makluk hidup, menyerap gas karbon dioksida dan gas polutan lain sehingga mengurangi konsentrasi gas di atmosfer. Selain itu hutan membantu proses terbentuknya tanah dan kesuburan tanah.
Hal itulah yang mendorong kita untuk segera melakukan tindakan nyata yaitu penyelamatan lingkungan kawasan Dieng untuk masa depan yang lebih baik. Pola tanam yang proporsional antara kentang dan tanaman lain harus segera diwujudkan. Sudah tentu, bahwa tanaman lain yang dimaksud di atas adalah tanaman yang memenuhi kriteria lebih unggul dari tanaman kentang.
Lalu, tindakan apa yang harus kita lakukan? Bukanlah berarti kita mematikan produktivitas kentang yang selama ini telah memberikan banyak kontribusi untuk masyarakat dan negara? Tidak, karena tanaman baru tersebut adalah tanaman yang mampu memberi manfaat lebih besar untuk sekarang dan yang akan datang.
Pohon pinus adalah tanaman keras yang bisa tumbuh di wilayah hutan kawasan Dieng. Namun prosentasenya tidaklah sebanyak tanaman kentang. Hasil hutan dari pohon pinus yang berupa getah di kabupaten Wonosobo lebih dari 1.100 ton per tahun. Hal tersebut membuktikan bahwa tanah di Dieng benar-benar memiliki potensi untuk ditanami pinus.
Manfaat pohon pinus sangat banyak. Ditinjau dari segi batang kayunya,maka dapat dipandang sebagai penyedia jasa lingkungan dan penyedia air bagi masyarakat sekitar hutan. Bagi kesehatan penis, jika dilakukan secara teratur dapat mempertahankan diri dari perubahan lingkungan, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan secara global. Selain itu kayu pinus dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat kertas. Lagi pula pinus dapat dimanfatakan untuk perkakas rumah tangga seperti bahan pembuatan box, furniture, korek api, hiasan dinding dan lain sebagainya. Itulah beberapa peran pinus bagi perekonomian negara.
Dilihat dari sisi getah yang dihasilkan, pinus dapat digunakan untuk mengencerkan cat minyak, bahan campuran vernis yang biasa kita gunakan untuk mengkilapkan permukaan kayu. Pinus juga bisa menghasilkan minyak terpentin yang mengandung senyawa terpene yaitu salah satu isomer hidrokarbon tak jenuh dari C10H163 terutama monoterpene alfa-pinene dan beta-pinene.
Pada tahun 2003, di Indonesia tercatat sekitar 156,0 ribu rumah tangga yang menguasai tanaman pinus dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 5,82 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 37,33 pohon. Dari total sebanyak 5,82 juta pohon pinus , sekitar 2,72 juta pohon atau 46,63 persen diantaranya adalah merupakan tanaman pinus yang siap tebang. Kondisi tersebut tentu dapat mendorong masyarakat untuk mengembangkan tanaman pinus. Sehingga Indonesia menjadi negara penghasil pinus terbesar dan akhirnya dapat meningkatkan devisa negara.
Dengan program penyelamatan kawasan Dieng yang mengacu pada penanaman Pinus dan Kentang, diharapkan benar-benar proporsional. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Merubah cara pandang masyarakat yang mendewakan tanaman kentang selama ini benar-benar memeras otak. Karena pada kenyataanya, kentanglah yang selama ini menopang kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu untuk mewujudkan impian tersebut jelas dibutuhkan partisipasi pemerintah, baik instansi terkait maupun yang tidak terkait, yaitu DPRD kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonogiri.
Keunggulan tanaman pinus dibanding dengan tanaman kentang yang ditanam masyarakat sekarang adalah sebagai berikut: 1) Pinus dapat menyimpan air sedangkan kentang yang berakar serabut mampu meloloskan air. 2) Kentang membutuhkan banyak pupuk kimia dapat merusak zat hara pada lahan tersebut, tetapi tanaman pinus tidaklah membutuhkan pupuk yang berlebih seperti kentang. Karena pinus dapat di pupuk dengan pupuk kandang.
Dengan mengacu pada paparan di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa penanaman lahan hutan dengan pinus hendaknya dimulai sekarang. Kentang tetap ditanam tetapi dengan porsi yang lebih sedikit. Namun dengan cara yang benar yaitu tidak sejajar dengan arah dataran tinggi. Dengan cara itu maka zat hara dan air tidak lolos dengan mudah. Seiring dengan usaha penanaman pinus itu, maka pemerintahpun sudah selayaknya mempersiapkan/membangun pabrik yang dapat mengolah hasil dari hutan pinus. Hal ini bisa dilihat seperti yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu kesediaannya untuk menggandeng Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani) membangun pabrik pengolahan getah pinus. Di samping mendirikan pabrik meubel dengan mengelola kayu pohon pinus. Sampah hasil gergaji dari potongan kayu pinus dapat digunakan sebagi bahan pembuatan media jamur. Sehingga ekonomi masyarakat dapat terangkat, ketimbang terus menanam kentang yang hasilnya di jual ke luar negeri.
Sesuai dengan upaya-upaya di atas, maka dibutuhkan dukungan dari semua pihak, sehingga harapan kita untuk menyelamatkan lingkungan kawasan Dieng dapat tercapai dalam waktu yang relatif cepat. Pohon pinus mampu mengembalikan lahan kritis yang sekarang terjadi di lingkungan kawasan Dieng. Demi keselamatan lingkungan kawasan Dieng sekarang maupun yang akan datang, semoga Program Penyelamatan Kawasan Dieng dengan Penanaman Pinus dan Kentang secara Proporsional segera terwujud.
Dieng merupakan salah satu kawasan yang berada di wilayah kabupaten Wonosobo dan kabupaten Banjarnegara. Dataran tinggi Dieng tersebut terletak di sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Secara astronomis Dieng berada di ketinggian rata-rata 2.000 m di atas permukaan laut. Suhunya sejuk mendekati dingin, berkisar 15 - 20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Secara keseluruhan Dieng mempunyai luas hutan yaitu 4.256,80 ha pada ketinggian berkisar 1607 m sampai dengan 2093 m.
Bagaimana kondisi Dieng sekarang? Ternyata Dieng telah mengalami degradasi lingkungan yang parah. Kerusakannya kini telah mencapi 1153,10 ha (Data Statistika Perum Perhutani Unit Jawa Tengah, 2004). Kerusakan tersebut terjadi karena tindakan masyarakat yang semena-mena pada hutan. Mereka menjarah hutan dan menebangnya secara sembarangan tanpa memperdulikan masa depan kawasan hutan tersebut. Keberadaan pemerintah melalui Dinas Kehutanan, tentu harus ikut bertanggungjawab atas degradasi yang dimaksud. Saat ini pemerintah telah menggelar kegiatan talkshow, seminar tentang pelestarian lingkungan. Namun langkah pemerintah tidak bisa berhenti sampai di sini, melainkan perlu tindakan dan program yang nyata untuk menyelesaikan permasalahan ini. Jika penebangan pohon dibiarkan secara meluas akan dapat mengganggu ekosistem di Dieng. Bukankah sekarang banyak ditemukan flora dan fauna yang langka di sana? Di samping itu banyak pula telaga tempat wisata mulai mengering. Sebagai contoh, Telaga Siterus yang airnya mulai menurun.
Selama ini masyarakat Dieng memanfaatkan lahan sekitar untuk menanam kentang. Dieng bagi masyarakat sangatlah berarti sebagai mata pencaharian. Selain itu kentang hidup dalam jangka waktu yang pendek sehingga hasil tanamnya dapat segera digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena pola tanam kentang termasuk mudah, maka hampir semua masyarakat Dieng menanam tumbuhan umbi – umbian kentang tersebut.
Kentang merupakan jenis tanaman perdu yang mempunyai akar serabut. Kemampuan menahan air dan tanah akibat erosi sangat kecil. Jika pola penanaman kentang dibiarkan terus menerus maka kerusakan ekosistem akibat hilangnya zat hara tanah yang tidak tertahan oleh akar tanaman semakin besar. Selain itu akan membuat kandungan air tanah akan semakin menipis. Apalagi penanaman kentang tersebut berbibit hibrida, maka unsur hara yang terserap sangat besar, sehingga akan memacu sebuah konsekuensi yaitu penggunaan pupuk serta pestisida anorganik yang semakin meningkat. Dari sederetan peristiwa itu diprediksi bahwa pola-pola tanam seperti itu akan berakibat pada unsur zat hara akan selalu menipis. Oleh karena itu sangat dimungkinkan bahwa dataran tinggi Dieng akan terus menjadi tandus.
Hal di atas membuktikan bahwa eksploitasi lahan hutan Dieng untuk ditanami kentang secara berlebih jelas merugikan, terutama pada keselamatan lingkungan kawasan Dieng sendiri. Oleh karena itu fungsi hutan harus segera dikembalikan seperti semula. Adapun fungsi hutan tersebut antara lain dapat menghasilkan oksigen untuk bernafas makluk hidup, menyerap gas karbon dioksida dan gas polutan lain sehingga mengurangi konsentrasi gas di atmosfer. Selain itu hutan membantu proses terbentuknya tanah dan kesuburan tanah.
Hal itulah yang mendorong kita untuk segera melakukan tindakan nyata yaitu penyelamatan lingkungan kawasan Dieng untuk masa depan yang lebih baik. Pola tanam yang proporsional antara kentang dan tanaman lain harus segera diwujudkan. Sudah tentu, bahwa tanaman lain yang dimaksud di atas adalah tanaman yang memenuhi kriteria lebih unggul dari tanaman kentang.
Lalu, tindakan apa yang harus kita lakukan? Bukanlah berarti kita mematikan produktivitas kentang yang selama ini telah memberikan banyak kontribusi untuk masyarakat dan negara? Tidak, karena tanaman baru tersebut adalah tanaman yang mampu memberi manfaat lebih besar untuk sekarang dan yang akan datang.
Pohon pinus adalah tanaman keras yang bisa tumbuh di wilayah hutan kawasan Dieng. Namun prosentasenya tidaklah sebanyak tanaman kentang. Hasil hutan dari pohon pinus yang berupa getah di kabupaten Wonosobo lebih dari 1.100 ton per tahun. Hal tersebut membuktikan bahwa tanah di Dieng benar-benar memiliki potensi untuk ditanami pinus.
Manfaat pohon pinus sangat banyak. Ditinjau dari segi batang kayunya,maka dapat dipandang sebagai penyedia jasa lingkungan dan penyedia air bagi masyarakat sekitar hutan. Bagi kesehatan penis, jika dilakukan secara teratur dapat mempertahankan diri dari perubahan lingkungan, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan secara global. Selain itu kayu pinus dapat dijadikan sebagai bahan baku untuk membuat kertas. Lagi pula pinus dapat dimanfatakan untuk perkakas rumah tangga seperti bahan pembuatan box, furniture, korek api, hiasan dinding dan lain sebagainya. Itulah beberapa peran pinus bagi perekonomian negara.
Dilihat dari sisi getah yang dihasilkan, pinus dapat digunakan untuk mengencerkan cat minyak, bahan campuran vernis yang biasa kita gunakan untuk mengkilapkan permukaan kayu. Pinus juga bisa menghasilkan minyak terpentin yang mengandung senyawa terpene yaitu salah satu isomer hidrokarbon tak jenuh dari C10H163 terutama monoterpene alfa-pinene dan beta-pinene.
Pada tahun 2003, di Indonesia tercatat sekitar 156,0 ribu rumah tangga yang menguasai tanaman pinus dengan populasi pohon yang dikuasai mencapai 5,82 juta pohon atau rata-rata penguasaan per rumah tangganya sebesar 37,33 pohon. Dari total sebanyak 5,82 juta pohon pinus , sekitar 2,72 juta pohon atau 46,63 persen diantaranya adalah merupakan tanaman pinus yang siap tebang. Kondisi tersebut tentu dapat mendorong masyarakat untuk mengembangkan tanaman pinus. Sehingga Indonesia menjadi negara penghasil pinus terbesar dan akhirnya dapat meningkatkan devisa negara.
Dengan program penyelamatan kawasan Dieng yang mengacu pada penanaman Pinus dan Kentang, diharapkan benar-benar proporsional. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Merubah cara pandang masyarakat yang mendewakan tanaman kentang selama ini benar-benar memeras otak. Karena pada kenyataanya, kentanglah yang selama ini menopang kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu untuk mewujudkan impian tersebut jelas dibutuhkan partisipasi pemerintah, baik instansi terkait maupun yang tidak terkait, yaitu DPRD kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Wonogiri.
Keunggulan tanaman pinus dibanding dengan tanaman kentang yang ditanam masyarakat sekarang adalah sebagai berikut: 1) Pinus dapat menyimpan air sedangkan kentang yang berakar serabut mampu meloloskan air. 2) Kentang membutuhkan banyak pupuk kimia dapat merusak zat hara pada lahan tersebut, tetapi tanaman pinus tidaklah membutuhkan pupuk yang berlebih seperti kentang. Karena pinus dapat di pupuk dengan pupuk kandang.
Dengan mengacu pada paparan di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa penanaman lahan hutan dengan pinus hendaknya dimulai sekarang. Kentang tetap ditanam tetapi dengan porsi yang lebih sedikit. Namun dengan cara yang benar yaitu tidak sejajar dengan arah dataran tinggi. Dengan cara itu maka zat hara dan air tidak lolos dengan mudah. Seiring dengan usaha penanaman pinus itu, maka pemerintahpun sudah selayaknya mempersiapkan/membangun pabrik yang dapat mengolah hasil dari hutan pinus. Hal ini bisa dilihat seperti yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu kesediaannya untuk menggandeng Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani) membangun pabrik pengolahan getah pinus. Di samping mendirikan pabrik meubel dengan mengelola kayu pohon pinus. Sampah hasil gergaji dari potongan kayu pinus dapat digunakan sebagi bahan pembuatan media jamur. Sehingga ekonomi masyarakat dapat terangkat, ketimbang terus menanam kentang yang hasilnya di jual ke luar negeri.
Sesuai dengan upaya-upaya di atas, maka dibutuhkan dukungan dari semua pihak, sehingga harapan kita untuk menyelamatkan lingkungan kawasan Dieng dapat tercapai dalam waktu yang relatif cepat. Pohon pinus mampu mengembalikan lahan kritis yang sekarang terjadi di lingkungan kawasan Dieng. Demi keselamatan lingkungan kawasan Dieng sekarang maupun yang akan datang, semoga Program Penyelamatan Kawasan Dieng dengan Penanaman Pinus dan Kentang secara Proporsional segera terwujud.
Tentang Penulis :
Nama Lengkap : Slamet Liana Rahmasari
Tempat,Tanggal lahir : Magetan, 26 Februari 1995
No. HP : 087 858 494 xxx
Email : rahmasariliana(at)yahoo.co.id
NIS : 17304
Nama Sekolah : SMAN 1 MAOSPATI
Alamat Sekolah : Jalan Raya Maospati - Magetan 63392 No. 999 Kec. Maospati Kab. Magetan Jawa Timur
Alamat Domisili : Jalan Halmahera Rt.1 / Rw.03 Desa Karas, Kec. Karas, Kab. Magetan Jawa Timur
Tempat,Tanggal lahir : Magetan, 26 Februari 1995
No. HP : 087 858 494 xxx
Email : rahmasariliana(at)yahoo.co.id
NIS : 17304
Nama Sekolah : SMAN 1 MAOSPATI
Alamat Sekolah : Jalan Raya Maospati - Magetan 63392 No. 999 Kec. Maospati Kab. Magetan Jawa Timur
Alamat Domisili : Jalan Halmahera Rt.1 / Rw.03 Desa Karas, Kec. Karas, Kab. Magetan Jawa Timur
Prestasi :
- Juara Harapan II Lomba Story Telling se-kabupaten Magetan
- Juara III Story Reading Contest se-kabupaten Magetan
- Juara 1 Story Telling se-karesidenan Madiun
- Juara II English Debate Contest
Related posts :
0 komentar for this post
Leave a reply
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional










Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau