www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
Perempuan Dan Pelestarian Dieng
21:17 // 0 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: Karya Tulis Ilmiah //
PEREMPUAN DAN PELESTARIAN DIENG
Oleh :
RENDY ERIANDA
RENDY ERIANDA
Alamat : Jl. Medan Delitua Gg. Bhakti No. 112B, Medan
Sekolah : SMA Harapan Mandiri Jl. Brigjend. Zein Hamid No. 40, Medan
Sebagian besar ahli berkesimpulan bahwa kegiatan manusia adalah penyebab utama meningkatnya kerusakan lingkungan dan pemanasan global yang dikenal dengan sebutan efek rumah kaca (greenhouse effect). Efek rumah kaca memanaskan bumi melalui suatu proses kompleks yang berhubungan dengan sinar matahari, gas, dan partikel-partikel yang ada di atmosfer.
Kegiatan manusia yang menimbulkan pemanasan global tersebut, antara lain, pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam, serta pembukaan lahan. Sebagian besar pembakaran berasal dari asap mobil, pabrik, dan pembangkit tenaga listrik. Pembakaran bahan bakar fosil ini menghasilkan karbondioksida (CO2), yakni gas rumah kaca yang menghambat radiasi panas ke ruang angkasa.
Pohon-pohon dan berbagai tanaman, secara alami, memang menyerap CO2 dari udara selama proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan. Sayangnya, pembukaan lahan dengan menebangi pohon-pohon telah meningkatkan jumlah CO2 karena menurunkan penyerapan oleh tumbuhan. Sementara itu, dekomposisi dari tumbuhan yang telah mati turut pula meningkatkan jumlah CO2.
Pada akhirnya, pemanasan global yang terus menerus berlanjut dapat menimbulkan berbagai kerusakan. Hewan dan tumbuhan yang hidup di dalam laut menjadi terganggu. Sementara hewan di daratan terdorong untuk berpindah ke habitat yang baru. Pola cuaca berubah drastis sehingga menyebabkan timbulnya banjir besar, kekeringan, angin kencang, dan badai dahsyat. Mencairnya es di kutub mengakibatkan peningkatan tinggi permukaan air laut. Penyakit-penyakit menyerang manusia secara meluas dan terjadi penurunan hasil panen pada beberapa wilayah. Hal mana tentunya sangat mengkhawatirkan.
Di Indonesia sendiri, kerusakan lingkungan tampak nyata menimpa sepenjuru negeri. Secara spesifik, misalnya, Kawasan Dieng, yang berketinggian + 2.095 meter di atas permukaan laut. Jika dahulu Kawasan Dieng dikenal dengan keindahan panoramanya yang menyerupai kahyangan tempat bersemayamnya dewa-dewi, kini kerusakan lingkungan telah mengubahnya menjadi lahan kritis. Selain itu, juga terjadi kerusakan pada ekosistem hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu, peningkatan erosi erosi dan sedimentasi tanah di alur-alur sungai (juga telaga dan waduk), terdesaknya kelangsungan hidup populasi satwa langka seperti Elang Jawa (Spezaetus bartelsi), serta penurunan debit mata air hingga mengakibatkan kelangkaan air bersih.
Penyebab kerusakan Kawasan Dieng nyata-nyata adalah kegiatan manusia. Kecilnya tingkat kepemilikan lahan menyebabkan tidak terkendalinya okupasi dan konversi lahan hutan lindung menjadi lahan pertanian. Data yang dihimpun Kantor Berita ANTARA menunjukkan bahwa luas hutan Dieng yang mengalami kerusakan mencapai 1.153,10 ha dari total sekitar 4.256,80 ha. Sementara itu, upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui budidaya kentang dengan dukungan investor dan perbankan telah mengubah pegunungan Dieng menjadi gundul.
Demi memulihkan kelestarian Kawasan Dieng Kabupaten Wonosobo dan mengantisipasi dampak pemanasan global secara lebih luas, seluruh potensi tentunya mesti segera didayagunakan. Namun, selama ini, ada potensi yang masih belum banyak dilirik. Potensi tersebut adalah perempuan. Bukan hanya masih terabaikan, dalam berbagai aktivitas kehidupan, peran perempuan bahkan cenderung dipinggirkan. Padahal, potensi yang dimiliki kaum perempuan cukup signifikan. Berdasarkan data BPS (2010), diketahui jumlah penduduk Indonesia mencapai 237.556.363 jiwa. Jumlah laki-laki hanya sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan (laki-laki 119.507.580 jiwa dan perempuan 118.048.783 jiwa). Dari perbandingan jumlah ini, tampak jelas kiranya bahwa peran perempuan tidak dapat diremehkan.
Kenyataannya, dalam beberapa aspek kehidupan maupun aktivitas perekonomian, perempuan kurang dapat berperan aktif. Hal ini disebabkan kondisi serta posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. Terbatasnya peluang dan kesempatan untuk mengakses dan mengontrol sumber daya pembangunan maupun lingkungan hidup, sekaligus masih rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan perempuan, menyebabkan potensi yang dimiliki belum tergali secara maksimal.
Itulah sebabnya, peranan perempuan, sebagai pelaku pelestarian lingkungan dan berbagai aktivitas ekonomi demi meningkatkan taraf kehidupannya, perlu terus ditingkatkan. Pemberian kesempatan kepada perempuan akan mengantarkan kaum perempuan pada suatu tatanan perjuangan mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. Jika perempuan diberikan peran lebih besar, maka selain meningkatkan rasa percaya diri, diharapkan juga memperkuat posisi tawarnya terhadap laki-laki.
Mengapa harus perempuan ? Jawabannya terkait erat dengan beberapa stereotipe gender yang selama ini dilekatkan pada perempuan. Perempuan dicitrakan mempunyai sifat lemah lembut, peka, penyabar, penuh pertimbangan, pemelihara, dan masih banyak lagi. Stereotipe dimaksud meniscayakan bahwa perempuan memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk diberdayakan dalam pelestarian lingkungan hidup serta pemanfaatan secara berkelanjutan. Atau dengan perkataan lain, perempuan diasumsikan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa merusak.
Sifat peka dan penyabar diyakini akan memampukan perempuan untuk bertindak lebih bijaksana dalam pelestarian lingkungan hidup serta pemanfaatan secara berkelanjutan, peka terhadap kondisi masyarakat setempat sehingga memiliki kepedulian yang berlanjut dengan inisiatif untuk meningkatkan taraf perekonomian. Sabar mengandung arti bahwa perempuan bisa memahami sepenuhnya bahwa pelestarian lingkungan maupun pemanfaatan potensinya membutuhkan proses berliku hingga dapat menghasilkan sesuatu yang berharga dan bernilai ekonomis. Watak malas dan cenderung ingin serba cepat sama sekali tidak dibutuhkan di sini, karena berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan.
Adapun kelemahlembutan dibutuhkan saat berhadapan dengan sebagian warga masyarakat maupun pihak lain yang mungkin sudah terbiasa mengeksploitasi lingkungan tanpa memperhatikan kaidah lingkungan hidup. Hanya dengan kelemahlembutan diharapkan bisa tercapai tercapai kesepakatan yang menguntungkan secara ekonomis sekaligus tetap berpihak pada lingkungan.
Sikap yang penuh pertimbangan dan pemelihara juga bernilai teramat positif dalam pelestarian lingkungan hidup serta pemanfaatan secara berkelanjutan. Karena penuh pertimbangan, perempuan pastinya takkan tergesa-gesa memutuskan untuk melakukan suatu aktivitas perekonomian yang mengeksploitasi lingkungan tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan dampaknya. Sedangkan sebagai pemelihara, diyakini perempuan akan senantiasa mengedepankan kepentingan pelestarian lingkungan hidup, bagaimana mengupayakan terpeliharanya kelestarian alam, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekologis.
Setelah mengetahui alasan mengapa perempuan harus dilibatkan dalam pelestarian lingkungan hidup serta pemanfaatan secara berkelanjutan, kini saatnya mencoba mengungkap sejumlah langkah nyata untuk mewujudkannya. Awalnya, perempuan tentu saja harus mengorganisasikan diri dan menghimpun potensi. Dalam hal ini, pilihan mungkin jatuh pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli lingkungan yang senantiasa terbuka serta merangkul semua kalangan. Organisasi tersebut diharapkan mampu memberikan peluang besar bagi perempuan, terutama terkait proses penyadaran diri, membuka cara berpikir yang lebih lepas dan terbuka, sehingga menjadi sosok perempuan yang percaya diri, memahami perannya, juga dapat mengambil keputusan demi menyumbangkan potensi yang dimilikinya bagi kemajuan bersama.
Agar aktivitas pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh perempuan lebih memiliki nilai tambah secara ekonomis, LSM dapat membantu menggali berbagai peluang ekonomi, melalui pelatihan atau pemberian modal usaha. Sebagai contoh, di Kawasan Dieng, peluang ekonomi yang bisa dibidik adalah pengembangan usaha berskala rumah tangga yang mengolah kentang menjadi keripik atau produk lain yang mampu memberi nilai tambah pada hasil panen. Usaha ini tidak menyita terlalu banyak waktu, bahkan bisa dilakukan di rumah sendiri, sehingga perempuan tetap bisa melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu.
Bagaimana pun, meski perempuan telah berkecimpung di sektor publik yang menghasilkan uang, ia tetap harus mengemban tanggung jawab pada lingkup domestik. Beban domestik tidaklah berkurang karena suami tak serta-merta bersedia ikut berpartisipasi berbagi tugas. Maka, tanggung jawab perempuan menjadi berganda.
Itulah sebabnya, perempuan yang ingin berdaya secara ekonomi dan berkiprah pada sektor publik haruslah benar-benar perkasa, sebab ia dipastikan bakal menanggung beban ganda. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. Tapi, tampaknya perempuan Dieng telah terbiasa menghadapi hal dimaksud. Bukan di luar kelaziman bila mereka ikut bekerja keras menggarap lahan, memelihara tanaman, hingga memanen. Sebagian perempuan Dieng bahkan sering melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan laki-laki, seperti mencangkul, mengangkut pupuk, hingga memanggul hasil panen. Jangan mengira mereka lantas mengabaikan tugas sebagai ibu dan istri. Perempuan Dieng tetap berusaha mengemban peran publik (bertani, mencari nafkah) maupun domestik (rumah tangga) dengan sebaik-baiknya. Prinsip yang dipegang teguh tidaklah muluk-muluk, yakni membantu ekonomi keluarga tanpa meninggalkan kewajiban lainnya. Mungkin tekad membantu perekonomian keluarga itulah yang lantas memunculkan maskulinitas perempuan Dieng. Di balik raga dan kelemahlembutannya, sejatinya tersimpan kekuatan teramat dahsyat yang setiap saat siap dikerahkan demi memperjuangkan penghidupan keluarga.
Setelah peluang usaha berhasil diwujudkan secara konkret, maka yang harus dipikirkan berikutnya adalah pengembangan usaha. Agar dapat memberdayakan lebih banyak perempuan secara ekonomis, diperlukan pendampingan dan penguatan secara berkesinambungan. Ini bisa dilakukan oleh LSM bekerja sama dengan instansi pemerintah terkait atau pun pemerintah daerah.
Bagaimana pun, meski perempuan telah berkecimpung di sektor publik yang menghasilkan uang, ia tetap harus mengemban tanggung jawab pada lingkup domestik. Beban domestik tidaklah berkurang karena suami tak serta-merta bersedia ikut berpartisipasi berbagi tugas. Maka, tanggung jawab perempuan menjadi berganda.
Itulah sebabnya, perempuan yang ingin berdaya secara ekonomi dan berkiprah pada sektor publik haruslah benar-benar perkasa, sebab ia dipastikan bakal menanggung beban ganda. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. Tapi, tampaknya perempuan Dieng telah terbiasa menghadapi hal dimaksud. Bukan di luar kelaziman bila mereka ikut bekerja keras menggarap lahan, memelihara tanaman, hingga memanen. Sebagian perempuan Dieng bahkan sering melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan laki-laki, seperti mencangkul, mengangkut pupuk, hingga memanggul hasil panen. Jangan mengira mereka lantas mengabaikan tugas sebagai ibu dan istri. Perempuan Dieng tetap berusaha mengemban peran publik (bertani, mencari nafkah) maupun domestik (rumah tangga) dengan sebaik-baiknya. Prinsip yang dipegang teguh tidaklah muluk-muluk, yakni membantu ekonomi keluarga tanpa meninggalkan kewajiban lainnya. Mungkin tekad membantu perekonomian keluarga itulah yang lantas memunculkan maskulinitas perempuan Dieng. Di balik raga dan kelemahlembutannya, sejatinya tersimpan kekuatan teramat dahsyat yang setiap saat siap dikerahkan demi memperjuangkan penghidupan keluarga.
Setelah peluang usaha berhasil diwujudkan secara konkret, maka yang harus dipikirkan berikutnya adalah pengembangan usaha. Agar dapat memberdayakan lebih banyak perempuan secara ekonomis, diperlukan pendampingan dan penguatan secara berkesinambungan. Ini bisa dilakukan oleh LSM bekerja sama dengan instansi pemerintah terkait atau pun pemerintah daerah.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa perempuan semakin berdaya sehingga mampu menyumbang pada peningkatan taraf perekonomian keluarga serta masyarakat. Ini karena, dalam prakteknya, sumbangan ekonomi perempuan (istri) memang sangat signifikan membantu ekonomi keluarga sehingga turut mendukung pengentasan kemiskinan. Dengan demikian, ada sejumlah tujuan sekaligus yang dapat tercapai, yakni pemanfaatan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan, pemberdayaan perempuan, sekaligus pengentasan kemiskinan.
Akhirnya, laki-laki pun perlu disadarkan bahwa pemberian kesempatan setara bagi perempuan semata dilakukan untuk mendukung pemenuhan hak berperan (dalam berbagai bidang kehidupan) yang saat ini semakin dirasakan sebagai salah satu kebutuhan dasar, sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengobrak-abrik kekuasaan patriarkhi yang mapan ataupun menimbulkan konflik dengan laki-laki. Mungkin saja, suatu saat nanti, mereka akan bersedia berbagi peran pada sektor domestik sehingga perempuan (yang sudah berkiprah di sektor publik) takkan lagi terlalu terbebani. Hal mana tampaknya telah berlangsung di Dieng, dimana relasi antara laki-laki dan perempuan tampaknya cenderung. Setiap anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban yang sama terhadap keluarga.
Walau acapkali harus berjuang lebih berat dari pada laki-laki, perempuan biasanya cukup tangguh untuk menghadapi berbagai kendala. Semoga, dengan peningkatan keterlibatan perempuan, masyarakat Dieng (dan Indonesia) akan sejahtera tanpa perlu merusak lingkungan.
TENTANG PENULIS
Nama Lengkap : RENDY ERIANDA
Alamat : Jl. Medan Delitua Gg. Bhakti No. 112B, Medan
HP No. : 087868320XXX
e-mail : rendyerianda(at)yahoo.co.id
Tempat/Tgl. Lahir : Takengon, 16 September 1994
Usia : 17 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Siswa Kelas XII IPS 2 SMA Harapan Mandiri Jl. Brigjend. Zein Hamid No. 40, Medan
Telp. (061) 7882388 (Hunting)
Alamat : Jl. Medan Delitua Gg. Bhakti No. 112B, Medan
HP No. : 087868320XXX
e-mail : rendyerianda(at)yahoo.co.id
Tempat/Tgl. Lahir : Takengon, 16 September 1994
Usia : 17 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Siswa Kelas XII IPS 2 SMA Harapan Mandiri Jl. Brigjend. Zein Hamid No. 40, Medan
Telp. (061) 7882388 (Hunting)
PRESTASI
:
- Juara III Lomba Menulis Artikel Asuransi Tingkat Nasional ’Insurance Day 2009’.
- Juara I Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional Islamic Education Festival-GAMAIS ITB 2010.
- Juara III Lomba Menulis Artikel Tingkat Nasional 2010 dalam rangka Harlah Ke-12 Partai Kebangkitan Bangsa.
- Juara III Lomba Menulis Tingkat Nasional 2010 Tupperware ’Children Helping Children’.
- Juara I Lomba Menulis PLN Tingkat Regional Sumatera Utara 2010.
- Finalis Lomba Menulis FB 2010 "Bagaimana Solusi Agar Indonesia Lebih Hijau ?" yang diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Federal Jerman.
- Juara II Lomba Menulis Tingkat Nasional BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) 2010.
- Juara II Kategori Pelajar SMA Lomba Karya Tulis Bidang Kearsipan Tahun 2011 yang diadakan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
Related posts :
0 komentar for this post
Leave a reply
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional









Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau