www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
Wong Tani Utun
10:35 // 0 komentar // tafrihan // Category: Unik Antik //
Dieng, Wonosobo-Banjarnegara, 13/10/2010. petani tradisonal dan sulit untuk menerima hal-hal baru, sederhana,pasrah, kolot dan jujur merupakan bentuk penggambaran arti dari wong tani utun.terkadang aneh juga mendengarnya tapi dikawasan Dieng ini memang banyak wong tani utun, cara berpikirnya sering diluar kewajaran lingkungan sekitar dimana gempuran informasi begitu mudah didapat yang tentunya merubah jug apola pikir masyarakatnya.
Wong tani utun biasanya hidup sederhana, mulai dari rumah ,cara berpakaian,cara makan dan cara berbicara, bahkan sering juga mereka tidak mengacuhkan dengan informasi disekitar mereka yang hal ini menjadi keunikan tersendiri ketika bersosialisasi.
Wong tani utun biasanya hidup sederhana, mulai dari rumah ,cara berpakaian,cara makan dan cara berbicara, bahkan sering juga mereka tidak mengacuhkan dengan informasi disekitar mereka yang hal ini menjadi keunikan tersendiri ketika bersosialisasi.
Buruh tani dan petani diladang sendiri yang menghabiskan waktunya diladang biasanya disebut juga wong tani utun, berangkat pagi sekitar jam 06.00 wib dan pulang sore hari menjelang ashar.
Waktu untuk bersosialisasi bagi mereka hanya pada malam hari dengan cara ngendong dan pada saat mengikuti pengajian kelompok,genduren dan sejenisnya.Kesederhanaan hidup mereka terkadang menjadi kesulitan tersendiri bagi pihak lain yang ingin mengajak untuk berpikir lebih jauh lagi, mengajak untuk berkembang apalagi penerapan teknologi baru.
"ora usah neko-neko lah urip iki dilakoni bae", kelihatan pasrah dan menyerah dengan keadaan,akan tetapi tidak semua wong tani utun hidupnya terus-menerus dalam keterbatasan, banyak juga yang dengan ketekunannya bekerja akhirnya mendapat harta berlebih, tapi umumnya mereka tetap hemat dalam pengeluaran uang dan hanya menggunakan seperlunya saja, Uang yang mereka dapatkan dari hasil panen biasanya hanya disimpan dibawah kasur yang hanya diketahui oleh suami atau istrinya, bahkan sering terjadi anaknya pun tidak mengetahuinya, dan suatu ketika pernah ada keluarga yang kebingungan ketika orang tuanya meninggal dan membersihkan tempat tidur, ternyata dibawah kasur ditemukan uang dalam jumlah yang cukup banyak.
Dari kesederhanaan berpikir dan berperilaku, wong tani utun tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial yang cukup menarik di kawasan Dieng, jujur dan sangat hati-hati dalam mengeluarkan uang yang hampir mendekati kata pelit merupakan sebuah cara mereka menghargai dirinya sendiri yang sudah bekerja sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang tahun.
Cara survival wong tani utun sangat mengagumkan, karena mereka umumnya dapat bertahan hidup dengan cara yang terbilang unik,untuk makan mereka dapat memanfaatkan sayuran yang biasanya ada di ladang mereka, nasinya dari jagung terkadang dengan beras atau dengan campuran keduanya yang disebut grontol sementara ketela, kentang dan ubi jalar juga bisa menjadi bahan makanan pengganti nasi.
Rumah milik wong tani utun biasanya juga menjadi tempat untuk menyimpan peralatan pertanian, seperti, pacul,kawuk,gendhek,krundu,keranjang, krindik, panja,garu dll. Rumah tersebut juga sebagai penampung pupuk sebelum dibawa keladang dan menampung hasil panen dari ladang.
Pada saat komoditas kentang masih mengalami masa keemasan, banyak wong tani utun yang memiliki ladang sendiri akhirnya menjadi kaya raya dan cara hidupnya pun mulai berubah, kesederhanaan yang dulu disandangnya mulai berubah, rumah direnovasi seperti rumah gaya spanyol, antena parabola besar yang dapat menjangkau siaran TV internasionalpun dipasang sebagai hiburan. dan yang jarang berubah adalah cara berpakaian yang masih terbiasa dengan kalung sarung dan jaket yang didobel bahkan sering juga yang ditambah assesories kaus kaki berwarna mencolok dan memakai sandal, yang terkadang sering mengecoh pihak dealer mobil, pernah ada penduduk dari kawasan Dieng yang datang ke dealer dengan pakaian tersebut dan membawa dua kantung plastik kresek, dikira pengemis ternyata dia mau membeli mobil baru dengan dua kantung plastik penuh uang.
tim.diengplateau.com
"ora usah neko-neko lah urip iki dilakoni bae", kelihatan pasrah dan menyerah dengan keadaan,akan tetapi tidak semua wong tani utun hidupnya terus-menerus dalam keterbatasan, banyak juga yang dengan ketekunannya bekerja akhirnya mendapat harta berlebih, tapi umumnya mereka tetap hemat dalam pengeluaran uang dan hanya menggunakan seperlunya saja, Uang yang mereka dapatkan dari hasil panen biasanya hanya disimpan dibawah kasur yang hanya diketahui oleh suami atau istrinya, bahkan sering terjadi anaknya pun tidak mengetahuinya, dan suatu ketika pernah ada keluarga yang kebingungan ketika orang tuanya meninggal dan membersihkan tempat tidur, ternyata dibawah kasur ditemukan uang dalam jumlah yang cukup banyak.
Dari kesederhanaan berpikir dan berperilaku, wong tani utun tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial yang cukup menarik di kawasan Dieng, jujur dan sangat hati-hati dalam mengeluarkan uang yang hampir mendekati kata pelit merupakan sebuah cara mereka menghargai dirinya sendiri yang sudah bekerja sepanjang hari, sepanjang minggu dan sepanjang tahun.
Cara survival wong tani utun sangat mengagumkan, karena mereka umumnya dapat bertahan hidup dengan cara yang terbilang unik,untuk makan mereka dapat memanfaatkan sayuran yang biasanya ada di ladang mereka, nasinya dari jagung terkadang dengan beras atau dengan campuran keduanya yang disebut grontol sementara ketela, kentang dan ubi jalar juga bisa menjadi bahan makanan pengganti nasi.
Rumah milik wong tani utun biasanya juga menjadi tempat untuk menyimpan peralatan pertanian, seperti, pacul,kawuk,gendhek,krundu,keranjang, krindik, panja,garu dll. Rumah tersebut juga sebagai penampung pupuk sebelum dibawa keladang dan menampung hasil panen dari ladang.
Pada saat komoditas kentang masih mengalami masa keemasan, banyak wong tani utun yang memiliki ladang sendiri akhirnya menjadi kaya raya dan cara hidupnya pun mulai berubah, kesederhanaan yang dulu disandangnya mulai berubah, rumah direnovasi seperti rumah gaya spanyol, antena parabola besar yang dapat menjangkau siaran TV internasionalpun dipasang sebagai hiburan. dan yang jarang berubah adalah cara berpakaian yang masih terbiasa dengan kalung sarung dan jaket yang didobel bahkan sering juga yang ditambah assesories kaus kaki berwarna mencolok dan memakai sandal, yang terkadang sering mengecoh pihak dealer mobil, pernah ada penduduk dari kawasan Dieng yang datang ke dealer dengan pakaian tersebut dan membawa dua kantung plastik kresek, dikira pengemis ternyata dia mau membeli mobil baru dengan dua kantung plastik penuh uang.
tim.diengplateau.com
Related posts :
0 komentar for this post
Leave a reply
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional










Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau