www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
Kawasan Dieng Terancam Vonis 10 Tahun Bencana
22:40 // 7 komentar // tafrihan // Category: Article //
Dieng,22/12/2011.Tidak untuk membuat anda takut, ini sebuah realita yang harus dihadapi, bencana demi bencana datang silih berganti, dataran tinggi banjir, longsor, banjir bandang Tieng ahir tahun 2011 adalah cerita setiap hari, belum lagi ancaman gunung berapi..
Apakah kita masih merasa aman ? ataukah kita akan berusaha untuk hidup nyaman bersama ancaman? atau kita akan tetap seperti sekarang ini dan kehidupan sekarang dan masa depan terancam ? semua terserah kita.
Dieng terancam 10 tahun bencana,itu vonis saya sendiri, itupun kalau kita semua yang hidup di dataran tinggi ini mau serentak untuk menangani lingkungan disekitar kita mulai tahun 2012 beberapa hari lagi, perhitungannya adalah pohon yang kita tanam harus hidup apapun dan bagaimanapun caranya dan akan memiliki fungsi lindung secara maksimal sekitar umur pohon 10 tahun, dimana pukulan air hujan yang semakin tahun semakin besar butirannya tidak akan langsung menghantam tanah, akarnya akan mampu menyimpan air atau memperlama air untuk tinggal ditanah. Dengan ini semua apabila serentak dilakukan disemua lahan yang membahayakan ditanami tanaman keras saya yakin seandainya terjadi longsor dan banjir tidak akan sebesar beberapa tahun terakhir ini, bukan hanya di desa Tieng tapi dibanyak desa lain sudah merasakan sendiri rasa bencananya.
Saya masih ingat 3 hari lalu pada saat rakor camat se Kabupaten Wonosobo dan kades se Kecamatan Kejajar, bupati menanyakan apa yang akan terjadi jika penyelamatan lingkungan tidak dilakukan saya menjawab dengan tegas "Kiamat".
Bagaimana tidak, jika setiap hari kita dapat melihat sendiri, tanah-tanah diolah sampai puncak gunung dengan tanaman sayuran, tidak ada tanaman keras dan tidak ada tata kelola aliran air yang meluncur dari puncak, gunung dan perbukitan gundul plontos tidak ada tanaman keras yang berfungsi lindung, batu-batu besar diperladangan termasuk yang ada disebelah kiri jalan kejajar- Dieng seolah tinggal menunggu disentil dengan jari untuk jatuh, lereng-lereng begitu curam siap meluncur kepemukiman yang ada dibawahnya.
Ancaman bencana selama 10 tahun bukan hayalan dan bukan pula untuk menakut-nakuti, sebenarnya vonisnya 14 tahun tapi sudah dipotong masa bencana selama 4 tahun karena sudah terjadi rutin setiap tahun.
Saling menyalahkan dan tidak berbuat apapun sama sekali tidak akan mengurangi masa ancaman dan upaya menyalahkan orang lain adalah perilaku pengecut untuk menaikkan pamor egoisme diri yang tidak berpengaruh sedikitpun pada perubahan menuju perbaikan lingkungan.
Dalam banyak kasus bencana, biasanya akan kita jumpai pihak yang selalu menyalahkan pihak lain, pemerintah menyalahkan masyarakat yang ndablek, masyarakat menyalahkan pemerintah karena seolah kehadirannya tidak ada dan hanya melayani KTP dan mencatat orang nikah saja. anggota DPR menyalahkan pemerintah dan sebaliknya, Dinas kehutanan yang berorientasi kelestarian menyalahkan dinas pertanian karena orientasinya produktivitas.banyak pihak menyalahkan petani kentang. karena menyebabkan rusaknya struktur tanah, masyarakat yang tidak mencuri kayu dari hutan menyalahkan perhutani karena tidak pernah ada yang patroli apalagi menghukum pencuri kayu... dan masih banyak contoh saling menyalahkan yang lain, tidak perlu disebutkan semua pledoinya karena kita sendiri sering menjadi bagian yang menyalahkan orang lain.
Yang pasti ,saya lihat dan rasakan sekarang adalah Dieng rusak parah dan dalam proses hancur dalam artian yang sesungguhnya. ketika lingkungan Dieng rusak parah yang akan menerima akibatnya adalah kita semua plus penanggung dosa kita yaitu anak-cucu yang kita jadikan tumbal keserakahan dan keegoisan kita saat ini.
Apakah kita masih merasa aman ? ataukah kita akan berusaha untuk hidup nyaman bersama ancaman? atau kita akan tetap seperti sekarang ini dan kehidupan sekarang dan masa depan terancam ? semua terserah kita.
Dieng terancam 10 tahun bencana,itu vonis saya sendiri, itupun kalau kita semua yang hidup di dataran tinggi ini mau serentak untuk menangani lingkungan disekitar kita mulai tahun 2012 beberapa hari lagi, perhitungannya adalah pohon yang kita tanam harus hidup apapun dan bagaimanapun caranya dan akan memiliki fungsi lindung secara maksimal sekitar umur pohon 10 tahun, dimana pukulan air hujan yang semakin tahun semakin besar butirannya tidak akan langsung menghantam tanah, akarnya akan mampu menyimpan air atau memperlama air untuk tinggal ditanah. Dengan ini semua apabila serentak dilakukan disemua lahan yang membahayakan ditanami tanaman keras saya yakin seandainya terjadi longsor dan banjir tidak akan sebesar beberapa tahun terakhir ini, bukan hanya di desa Tieng tapi dibanyak desa lain sudah merasakan sendiri rasa bencananya.
Saya masih ingat 3 hari lalu pada saat rakor camat se Kabupaten Wonosobo dan kades se Kecamatan Kejajar, bupati menanyakan apa yang akan terjadi jika penyelamatan lingkungan tidak dilakukan saya menjawab dengan tegas "Kiamat".
Bagaimana tidak, jika setiap hari kita dapat melihat sendiri, tanah-tanah diolah sampai puncak gunung dengan tanaman sayuran, tidak ada tanaman keras dan tidak ada tata kelola aliran air yang meluncur dari puncak, gunung dan perbukitan gundul plontos tidak ada tanaman keras yang berfungsi lindung, batu-batu besar diperladangan termasuk yang ada disebelah kiri jalan kejajar- Dieng seolah tinggal menunggu disentil dengan jari untuk jatuh, lereng-lereng begitu curam siap meluncur kepemukiman yang ada dibawahnya.
Ancaman bencana selama 10 tahun bukan hayalan dan bukan pula untuk menakut-nakuti, sebenarnya vonisnya 14 tahun tapi sudah dipotong masa bencana selama 4 tahun karena sudah terjadi rutin setiap tahun.
Saling menyalahkan dan tidak berbuat apapun sama sekali tidak akan mengurangi masa ancaman dan upaya menyalahkan orang lain adalah perilaku pengecut untuk menaikkan pamor egoisme diri yang tidak berpengaruh sedikitpun pada perubahan menuju perbaikan lingkungan.
Dalam banyak kasus bencana, biasanya akan kita jumpai pihak yang selalu menyalahkan pihak lain, pemerintah menyalahkan masyarakat yang ndablek, masyarakat menyalahkan pemerintah karena seolah kehadirannya tidak ada dan hanya melayani KTP dan mencatat orang nikah saja. anggota DPR menyalahkan pemerintah dan sebaliknya, Dinas kehutanan yang berorientasi kelestarian menyalahkan dinas pertanian karena orientasinya produktivitas.banyak pihak menyalahkan petani kentang. karena menyebabkan rusaknya struktur tanah, masyarakat yang tidak mencuri kayu dari hutan menyalahkan perhutani karena tidak pernah ada yang patroli apalagi menghukum pencuri kayu... dan masih banyak contoh saling menyalahkan yang lain, tidak perlu disebutkan semua pledoinya karena kita sendiri sering menjadi bagian yang menyalahkan orang lain.
Yang pasti ,saya lihat dan rasakan sekarang adalah Dieng rusak parah dan dalam proses hancur dalam artian yang sesungguhnya. ketika lingkungan Dieng rusak parah yang akan menerima akibatnya adalah kita semua plus penanggung dosa kita yaitu anak-cucu yang kita jadikan tumbal keserakahan dan keegoisan kita saat ini.
Bagaimana dengan tahun 2012 ?. Menurut ramalan Badan Meteorologi dan Geofisika, curah hujan pada awal tahun 2012 akan lebih besar dibanding akhir tahun 2011, jadi apa yang selama ini terjadi dimungkinkan akan lebih besar kejadian bencananya hal ini disebabkan oleh adanya kesamaan lokasi dan kerusakan lingkungannya serta kesamaan tidak adanya tanaman keras yang memiliki fungsi lindung dilokasi tersebut. artinya terhitung mulai tahun 2012 sampai sepuluh tahun kemudian kita akan secara terus menerus terancam bencana tanah longsor, rockfall, landslide dan bencana sejenis setiap tahunnya.
Dengan Asumsi mulai tahun 2012 awal semua warga serentak menanam tanaman keras dilokasi masing- masing dan akan berfungsi optimal dalam masa 10 tahun yang akan datang, maka apa yang harus kita lakukan untuk menghadapai ancaman Vonis bencana selama 10 tahun ?
Beberapa alernatif dan plus minusnya
Relokasi di desa yang sama, solusi ini sepertinya hanya menunda bencana yang lebih besar akan memukul jatuh pertahanan kita, alasannya adalah warga yang direlokasi tetap akan melakukan usaha tani dilahan mereka yang sama dengan model yang sama pula,akan menebang sisa - sisa pohon yang ada dihutan lagi dan dengan adanya trend kondisi perubahan iklim dan cuaca ekstrim tentunya ancaman bencananya akan lebih besar yang cakupan wilayah rawan bencananya akan bertambah luas termasuk lokasi yang dijadikan relokasi, ini bukan hanya di desa Tieng tapi termasuk di hampir semua desa yang ada di Kecamatan Kejajar.
Membanguan tembok raksasa seperti china untuk melindungi semua pemukiman dari ancaman bencana banjir dan tanah longsor, bagaimana dengan ancaman yang lain, lagi pula siapa yang mau membangun dan dananya dari mana, membangun selokan dan trotoar di kecamatan Kejajar saja tidak ada yang bisa apalagi membangun tembok raksana.
Transmigrasi , solusi ini mungkin saja akan menjadi solusi yang baik, selama yang dilakukan bukan hanya membuang orang seperti masa lalu, tapi menempatkan orang layaknya manusia, yang perlu juga dipindahkan budaya dan kebiasaannya, ada jaminan bisa berusaha agar tidak mati kelaparan, ada jaminan pendidikan untuk masa depan anak-anak dan keturunannya, soal biaya dengan hitungan kasar bisa jadi lebih murah dibanding dengan upaya relokasi dan membangun kembali sarana prasarana yang telah hancur terkena bencana. model transmigrasinya bisa dengan konsep bedol RT ,bedol dusun atau bedol kampung.
Pasrah, ini solusi konyol orang yang sudah tidak punya gairah hidup, pasrah dalam kondisi kita tahu untuk berbuat sesuatu adalah jalan cepat untuk bunuh diri
Menyalahkan orang lain, solusi ini tidak akan merubah keadaan tanpa diikuti untuk berbuat sesuatu.
Berlagak hebat dan tangguh, yang ini lebih lucu lagi, karena tidak ada orang hebat ketika terjadi bencana, orang pintar akan jadi bodoh seketika pada saat dikepung ancaman kematian.
Lebih rajin beribadah, solusi ini baik untuk diri kita sendiri akan tetapi betapapun kita berdo'a sambil terus menangis tapi kondisi alamnya tetap seperti ini saya yakin hasilnya sama saja , yang merusak lingkungan secara berjama'ah lebih banyak, tentunya kita tidak dapat menghindar juga dari kenyataan dan teori sebab akibat, sepertinya bencana akan tetap mengancurkan kita, kita ingat Aceh, banyak sekali orang alim dan ulama' besar disana, siapa yang dapat menghindar dari bencana ? ( contoh Aceh lain jenis bencananya tapi konteknya sama soal bencana dan ibadah )
Solusi lainnya .... Apa ? terkadang masyarakat lebih cerdas dalam menentukan solusinya karena sebagian besar lahan milik mereka sendiri , mereka juga yang merasakan dan menerima akibatnya, selama ada pihak lain yang terus menerus belajar bersama mereka.
Sejak tahun 2000-2011 ini saya melakukan upaya penyadaran lingkungan dikawasan Dieng baik yang masuk Banjarnegara maupun Wonosobo, baik ada dana dari pihak lain maupun dana sendiri, baik kerjasama dengan pihak lain maupun sendiri, mulai dari perorangan sampai membentuk kelompok peduli lingkungan di desa-desa kawasan Dieng,melalui semua organisasi yang saya ada didalamnya dan dengan semua cara yang saya bisa, yang pada akhirnya tetap melakukan kegiatan fisik yang menghasilkan ekonomi bagi kelompok/ masyarakat tanpa meninggalkan kepentingan pelestarian lingkungan, tapi sepertinya apa yang sedikit saya lakukan ini juga tidak berpengaruh apa-apa,tidak menghasilkan apa-apa atau barangkali belum kelihatan hasilnya bahkan ada yang mengatakan hanya membuang uang dan tenaga secara sia-sia.
Kenyataan Terakhir
Seandainya semua tanaman keras yang ditanam mulai tahun 2000 sudah tumbuh dan berfungsi lindung bisa jadi akan lain ceritanya, tapi yang saya lihat sekarang adalah minim sekali pemeliharaan tanaman keras, bahkan terbiarkan mati dan yang masih hidup banyak yang ternodai. Fungsi lindung kawasan sangat minim bahkan hampir tidak ada dan ini semua diperparah dengan kondisi kemiringan lahan yang sangat ekstrim.
Vonis Terakhir
Dengan Menimbang beberapa kenyataan diatas, Memperhatikan kondisi Kerusakan Lingkungan yang ada saat ini,Mengasumsikan semua warga mulai memperbaiki kondisi lingkungan sejak tanggal 1 Januari 2012, Memutuskan : Kawasan Dieng terancam Vonis 10 Tahun Bencana.
Pembelaan Terakhir
Semua harap tenang, karena ini hanya pemikiran LSM Ndeso, yang tidak perlu diperhatikan apalagi dijadikan bahan pemikiran dan referensi, karena apabila sampai ada yang memperhatikan nanti akan banyak yang terhormat kepala bagian yang merasa tersaingi, terganggu kehebatan dan estetikanya, kemudian berlagak sok kuasa, arogan, tidak menghargai jerih payah orang lain dan marah-marah didepan umum untuk menunjukkan bahwa dia orang hebat, pejabat hebat dan berkuasa penuh atas sesuatu termasuk pemikiran dan aplikasi dilapangan. sediakan saja data yang dibutuhkan oleh banyak pihak kalau panjenengan punya, kemudian lakukan sesuatu jangan hanya diam apalagi hanya ngomong yang membingungkan orang. jangan hanya nampang dengan baju coklat dan sarana dari rakyat. LSM dan stakeholder lain juga harus do something jangan no action talk only. tapi semua terserah penjenengan, mau tidur terus ya monggo, mau berbuat sesuatu tanpa pamrih ya monggo mau sok sibuk ketika ada bupati ya monggo mawon, panjenengan semua punya hak atas tubuh dan otak panjenengan sebelum akhirnya tercerai berai seperti korban banjir bandang Tieng tahun 2011 ini, kaki, tangan, perut ,jeroan ,otak dan kepala terpisah -pisah.
Bagi masyarakat kawasan Dieng juga tidak usah resah apalagi timbul kekacauan baru ditengah masyarakat, karena ini hanya pemikiran wong bodho, terus saja berusaha seperti biasa , kalau tidak mau mulai menanam pohon ya monggo saja, toh itu lahan milik panjenengan, yang akan merasakan akibatnya juga panjenengan semua, saya tidak ada hak sama sekali untuk memaksa panjenengan yang jelas Vonis tidak akan berubah.
tafrihan.ketua lsm.bhinneka karya//diengplateau.com
Related posts :
7 komentar for this post
Leave a reply
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional










Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau
bimosaurus
22 Desember 2011 22:54
:(
Bencana, menurut kitab itu ada beberapa sebabnya.. yang paling sering dibaca oleh para ustadz adalah tentang peringatan dan azab. Saya sering sekali menentang hal ini. Jika bencana itu diakibatkan oleh tangan manusia seperti akhirnya terjadi banjir, tanah longsor, maka itu adalah hasil perbuatan tangan manusia. "..tiap-tiap diri tergadai oleh apa yang ia lakukan.." namun jika diluar pencegahan manusia, mari kita positif think pada Tuhan.. "..dan sudah pasti akan Kami timpakan padamu cobaan.."
Semoga segala yang ada di alam ini membuat kita bisa merasakan kasih sayang Tuhan dengan ramah..
kapan ya konservasi alam Dieng akan ada ... karena jika tidak, semua anak cucu kita hanya akan menikmati foto-foto belaka..
Dieng Plateau Tourism
22 Desember 2011 23:33
Kalau tidak ada perubahan 100 tahun pun bisa
Anonim
23 Desember 2011 16:59
halah medeni bae rika kang......
wong ala
24 Desember 2011 07:23
@kapan ya konservasi alam
Dieng akan ada ... karena
jika tidak, semua anak cucu
kita hanya akan menikmati
foto-foto belaka..
Ancaman yang luar biasa... tapi Alloh lah yang lebih kuasa
Anonim
25 Desember 2011 00:29
nyong okor pengen sira pada ngerti, Gusti pangeran kue seng kuoso, tapi ya Gusti pangeran ora bakal langsung turut campur tanpa anane lantaran...
dewek pengen uripe makmur, ya seka usahane dewek.
dewek pengen urip biasa2 bae ya pada, seka usahane dewek..
Dieng pengen makmur, ya seka usahane masyarakate..
Asline nek wong2 pada sadar kaya ngono, ya wes mesti, ceritane dadi seje...
nganti kanca2 ne nyong seng seka luar Dieng nek da dolan meng Dieng, kasi da heran..
jare "DIENG INI KAN TERMASUK DAERAH YANG JAUH DARI KOTA, TAPI KOK TERKESAN PADAT PENDUDUK, TANAMAN KAYUNYA PUN GAK ADA, GAK KAYA DAERAH LAEN, PADAHAL DIENG KAWASAN WISATA, GIMANA ORANG2 BAKAL TERTARIK TUK DATANG KE DIENG LAGI?"
nahhhh... trus prige jal...?
nek nyong lueh setuju, ya mergane wes pernah nglakoni membagi cerita tentang indahnya negri yg gemah ripah loh jinawi, tandurane ijo royo2, wit2an kaya kayu seng gede2 kateng semebar nang pinggir dalan, katon ASRI, rimbun dan tertata.
meskipun usahane nyong baru sebatas nyebarake cerita yang indah2, tapi nyong pengen menginspirasi kanca2 ben aja teros ngunduli hutan.
kerakusan masyarakat kawasan dieng untuk mengunduli hutan adalah bukan cz sebab.
nyong sebagai anak yg terlahir dari keluarga petani kawasan dieng sebenarnya engan tingal di Dieng.
Dieng terlihat tidak memberikan manfaat bagi nyong...
malah membebani pikiran, dari cara hidup bermasyarakat yang terus2an mengadakan acara pesta2 yg di bungkus ritual keagamaan, contone ya pengajian selapanan, pengajian IPNU/IPPNU, pengajian RT, pengajian wali murid, pengajian bani, pengajian... pengajian... pengajian... pengajian... dan melulu pengajian.
bukan kah hal itu akan membebani pengeluaran harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan...?
nek terus2an kaya kui kapan dieng bisa berhemat?
berhemat tuk membangun TEMBOK RAKSASA?
Anonim
27 Desember 2011 09:07
yang penting jangan lupakan allah hanya DIA lah yang dapat menunda bencana tidak ada yang lain baik manusia maupun tekhnologi yang canggihpun yang dapat menghentikan bencana,maka sadarlah sodaraku
seva
27 Desember 2011 23:39
Makanya kita harusnya menjaga hutan di sekitarnya kalau perlu gerakan tanam seribu pohon