www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
Mitos Masyarakat tentang Banjir Bandang Tieng
21:59 // 2 komentar // tafrihan // Category: Unik Antik //
Sejak jaman dulu ada sebuah mitos yang diceritakan secara turun temurun oleh sesepuh desa Tieng bahkan sampai sekarang mitos tersebut juga masih diyakini, walaupun sulit untuk membuktikannya.
Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menceritakan mitos ini, cerita tentang Banjir bandang dan Rendeng Emas ( Rendeng merupakan tanaman sejenis rumput yang dulu sering digunakan untuk mengobati luka oleh warga desa tieng).
Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menceritakan mitos ini, cerita tentang Banjir bandang dan Rendeng Emas ( Rendeng merupakan tanaman sejenis rumput yang dulu sering digunakan untuk mengobati luka oleh warga desa tieng).
Rendeng (Centella Asiatica ) sering juga disebut antanan, panegowang,
rendeng, caling rambut, antenan gede, pegaga, kori-kori. Pegagan bisa
tumbuh hingga ketinggian 2.500 m diatas permukaan laut. Jenisnya
tumbuhan tanpa batang, dengan rimpang pendek dan stolon-stolon yang
merayap dengan panjang 10-80 cm. Akarnya keluar dari setiap bonggol,
dengan cabang yang akan membentuk tumbuhan baru. Helai daun bersifat
tunggal, panjang tangkai sekitar 5-15 cm dengan bentuk ginjal manusia.
Hampir semua warga desa Tieng dari anak usia sekitar 17 tahun sampai yang usia lanjut sering mendengar cerita rendeng emas ini.cerita yang secara turun temurun dan entah sudah berapa generasi selalu diceritakan.
Konon di kaki gunung pakuwojo tumbuh tanaman yang bernama rendeng,tapi rendeng ini tidak seperti rendeng yang lain, rendeng ini namanya rendeng emas, tanaman ini harus dijaga dan tidak seorangpun boleh memetiknya, karena apabila sampai ada yang memetik tanaman tersebut pasti akan
terjadi bencana banjir bandang yang menghabiskan seluruh kawasan desa Tieng, Telaga cebong di desa sembungan yang luas akan jebol pintu airnya, kemudian akan menggenangi dan meluluhlantakkan seluruh kawasan desa Tieng.
Ada yang mengatakan bahwa rendeng emas ini ada di goa ngesong, sebuah goa batu yang ruangan dalamnya muat sekitar 10 orang, ada juga yang mengatakan tumbuh di tengah gunung pakuwojo, yang jelas sampai sekarang belum pernah ada yang mengaku melihat rendeng emas ini.
Hampir semua warga desa Tieng dari anak usia sekitar 17 tahun sampai yang usia lanjut sering mendengar cerita rendeng emas ini.cerita yang secara turun temurun dan entah sudah berapa generasi selalu diceritakan.
Konon di kaki gunung pakuwojo tumbuh tanaman yang bernama rendeng,tapi rendeng ini tidak seperti rendeng yang lain, rendeng ini namanya rendeng emas, tanaman ini harus dijaga dan tidak seorangpun boleh memetiknya, karena apabila sampai ada yang memetik tanaman tersebut pasti akan
terjadi bencana banjir bandang yang menghabiskan seluruh kawasan desa Tieng, Telaga cebong di desa sembungan yang luas akan jebol pintu airnya, kemudian akan menggenangi dan meluluhlantakkan seluruh kawasan desa Tieng.
Ada yang mengatakan bahwa rendeng emas ini ada di goa ngesong, sebuah goa batu yang ruangan dalamnya muat sekitar 10 orang, ada juga yang mengatakan tumbuh di tengah gunung pakuwojo, yang jelas sampai sekarang belum pernah ada yang mengaku melihat rendeng emas ini.
Moral cerita mitos ini memang banyak nilai luhurnya, bisa jadi yang dimaksud dengan rendeng emas adalah tanaman kayu, pohon dan tanaman lain yang memiliki fungsi lindung. Rendeng adalah tanaman pengobat luka dan emas adalah logam mulia yang harganya sangat tinggi. Dalam pengungsian cerita rendeng emas ini menjadi topik hangat kembali, orang yang usianya sudah tua sering diminta untuk menceritakan tentang rendeng emas dan yang lain mendengarkan dengan hidmat.
Bagi yang datang ke lokasi pengungsian dan tertarik dengan cerita ini silahkan untuk mendengarkan sendiri dari warga yang ada disana, bisa juga mencari tahu dari tokoh-tokoh masyarakat yang selalu berjaga di posko balai desa Tieng.
( gambar yang diatas merupakan gambar puncak pakuwojo , sebuah batu yang meruncing dan tertanam kokoh dipuncak gunung )
tafrihan.diengplateau.com
tafrihan.diengplateau.com
Related posts :
2 komentar for this post
Leave a reply
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional









Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau
Anonim
21 Desember 2011 16:42
Mungkin rendeng emas di cerita mitos itu hanya kiasan saja. Yang jelas rendeng apapun tumbuhnya merayap di permukaan tanah, yang tentunya pasti menutupi tanah. Kalau pendapat saya, pesan dari mitos tersebut adalah jangan ada yang membuka/mengolah tanah di situ karena dengan memetik/mencabut rendeng berarti telah mengubah pola penutupan tanah. Saya tidak tahu apakah di gunung pakuwojo dulunya hutan atau tertutup oleh tumbuhan bawah lain, tapi saya yakin tidak ada pencangakulan/ pengolahan tanah. Tapi dengan berjayanya budidaya kentang yang mampu menghasilkan materi melimpah, maka manusia mulai merambah lahan-lahan yang tidak seharusnya untuk budidaya apalagi kentang yang tanahnya harus selalu digemburkan. Pemandangan yang sekarang terlihat adalah tanaman kentang sampai puncak bukit yang dulunya hutan belantara, bahkan menanam kentang di sela-sela batu yang menyembul. Akibat keserakahan manusia akan materi, tidak peduli lagi akan kondisi alam dan lingkungan. Areal konservasi dijadikan areal budidaya pertanian tanaman semusim.
Kita tidak mengharapkan bencana seperti itu datang lagi, apalagi banyak saudara saya yang bermukim di wilayah tersebut, namun sekali lagi bencana yang datang adalah peringatan kepada umat manusia untuk selalu arif dan bijaksana dalam mengelola sumberdaya alam. Sekali lagi kita harus ingat, keuntungan besar sesaat dapat membawa bencana berkepanjangan. Mulailah dari sekarang, semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah untuk selalu menanam pohon dan menjaga kelestarian lingkungan untuk kehidupan generasi sekarang dan mendatang.
Bianglala Wonosobo
26 Desember 2011 19:04
MITOS " RENDENG MAS" DI DESA TIENG
Toponim berasal dari bahasa inggris Toponym, yang berarti ilmu tentang nama nama tempat. Istilah ini merupakan turunan dari bahasa yunani : Topos dan nomos. Topos berarti tempat, sedangkan Nomos berarti nama. Dengan demikian, secara literer to[onim bearti nama suatu tempat.
Dalam perkembangan selanjutnya istilah toponim mengacu pada bidang kajian ilmiah yang berfokus pada upaya untuk mencari asal usul,arti,penggunaan dan tipologi suatu tempat/daerah. Dengan kata lain,Toponim merupakan pemahaman konteks sosio-kultural dari masyarakat setempat yang menempati wilayah itu sebagai warisan alamiah. Dengan demikian,suatu studi yang berfokus pada sejarah pemberian nama suatu tempat/daerah.
Menurut the oxford english dictionary, kata toponym muncul pertama kali dalam bahasa inggris pada tahun 1876,setelah itu kata toponym kemudian digunakan untuk mengganti kata " place name" dalam dikursus diantara para ahli toponim( toponymist). Jadi toponymist adalah seorang penutur cerita yang mampu menjelaskan asal -muasal nama nama tempat tertentu yang sering kali asal usul itu dikaitkan dengan legenda setempat( Http//en.wikipedia.org/wiki/toponym.
mitos atau legenda " rendeng mas" yang secara turun temurun dikisahkan,diceritakan dari satu generasi ke generasi selanjutnya terutama di sekitar wilayah desa Tieng kecamatan kejajar kabupaten wonosobo,adalah merupakan kekayaan budaya setempat yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Hampir sebagian besar cerita rakyat,termasuk mitos/legenda yang dipercaya oleh masyarakat setempat,sangat sulit dibuktikan secara ilmiah. yang penting sebenarnya bukan terletak kepada pembuktian dari mitos/legendanya,namun lebih kepada " kearifan pesan" yang ingin disampaikan oleh nenek moyang kita kepada generasi penerusnya.
Mitos " rendeng mas" di desa tieng harusnya disikapi sebagai bentuk " warning" atau tanda bahaya karena kita telah lalai,atau mungkin juga lupa.atau pura pura lupa akan "pesan" atau " wasiat" leluhur untuk tetap menjaga lingkungan dengan penuh cinta.
(Engkoh Liend)
Komunitas BMW (Belajar Membaca Wonosobo)