www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
SINDORO Waspada ! Radius 2 Km dari Puncak Kawah, Berpotensi Awan Panas, Aliran Lava, Gas Beracun, Lontaran Batu Pijar & Hujan Abu Lebat.
23:02 // 1 komentar // Dieng Plateau Tourism // Category: News //
Dieng, Wonosobo Banjarnegara 06-12-2011. Status Gunung Sindoro atau Sundoro ditingkatkan dari normal (level I) menjadi waspada (level II) sejak pukul 20.00 WIB, 5 Desember 2011. Aktivitas gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah itu meningkat dalam sebulan belakangan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung yang menyatakan peningkatan status gunung Sindoro dari normal menjadi waspada.
Sementara itu Bupati Wonosobo, melalui Kabag Humas Setda Wonosobo, Agus Wibowo, selasa (06,12) menyampaikan, "Masyarakat Wonosobo, khususnya yang berada di sekitar lereng gunung Sindoro, diharapkan untuk tetap tenang". Pernyataan bupati tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi, yang dihadiri oleh Kesbangpolinmas, Satpol PP, Tim SAR, Bagian Humas dan lima Camat yang ada di sekitar Sindoro, yakni camat Kejajar, Garung, Mojotengah, Wonosobo, dan Kertek, bupati meminta agar masyarakat tidak dibuat panik oleh informasi yang menyesatkan terkait kondisi gunung Sindoro dan tetap tenang melakukan aktivitas sehari-hari tapi wajib untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan perkembangan kegiatan gunung Sindoro.
Untuk jenis kegempaan yang terekam dari tanggal 1 sampai 4 Desember 2011, terekam 20 kali gempa vulkanik dangkal atau naik 17 kali dibanding gempa yang terjadi pada bulan oktober 2011, dua kali gempa tektonik jauh, tiga kali gempa tektonik lokal dan enam kali gempa hembusan.
Peningkatan aktivitas vulkanik berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal dikhawatirkan akan memicu peningkatakn aktivitas vulkanik berupa letusan freatik atau letusan abu. Terkait hal tersebut, PVMBG meminta agar masyarakat di sekitar gunung Sindoro dan pengunjung atau wisatawan, tidak diperbolehkan mendaki serta mendekati kawah yang ada di puncak gunung Sindoro dalam radius dua kilometer dari kawah puncak, karena berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, gas beracun, lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.
Peningkatan aktivitas vulkanik berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal dikhawatirkan akan memicu peningkatakn aktivitas vulkanik berupa letusan freatik atau letusan abu. Terkait hal tersebut, PVMBG meminta agar masyarakat di sekitar gunung Sindoro dan pengunjung atau wisatawan, tidak diperbolehkan mendaki serta mendekati kawah yang ada di puncak gunung Sindoro dalam radius dua kilometer dari kawah puncak, karena berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, gas beracun, lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.
Petugas Pos Pemantau Gunung Sindoro dan Sumbing di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Temanggung, Sumaryanto, mengatakan berdasarkan keputusan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) status Gunung Sindoro menjadi waspada pada pukul 20.00 WIB.
Ia mengatakan, peningkatan status tersebut berdasarkan kenaikan aktivitas gunung yang dipantau secara visual maupun dari rekaman peralatan. "Kami terus memantau kondisi puncak Sindoro, bahkan pada 26 November dan 2 Desember 2011 kami naik ke puncak untuk melihat langsung Kawah Jolotundo," katanya.
Selain itu ia menambahkan pada pendakian tersebut terlihat bahwa terjadi semburan asap sulfatara cukup banyak dari dinding kawah. "Kami tidak bisa lagi menghitung titik semburan sulfatara karena sudah menyebar," kata Sumaryanto.
Sumaryanto pun mengatakan, berdasarkan catatan seismograf pada dua hari lalu terjadi peningkatan kegempaan dari hari-hari sebelumnya, terutama vulkanik dangkal. Pada 3 Desember, terjadi gempa vulkanik dangkal sebanyak delapan kali, kemudian keesokan harinya terjadi gempa vulkanik dangkal 12 kali, tektonik lokal tiga kali, tektonik jauh dua kali, dan gempa hembusan satu kali.
Dengan peningkatan status tersebut, semua jalur pendakian ke Gunung Sindoro ditutup. "Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pendakian. Semua jalur pendakian ditutup," katanya.
Ia mengatakan, peningkatan status tersebut berdasarkan kenaikan aktivitas gunung yang dipantau secara visual maupun dari rekaman peralatan. "Kami terus memantau kondisi puncak Sindoro, bahkan pada 26 November dan 2 Desember 2011 kami naik ke puncak untuk melihat langsung Kawah Jolotundo," katanya.
Selain itu ia menambahkan pada pendakian tersebut terlihat bahwa terjadi semburan asap sulfatara cukup banyak dari dinding kawah. "Kami tidak bisa lagi menghitung titik semburan sulfatara karena sudah menyebar," kata Sumaryanto.
Sumaryanto pun mengatakan, berdasarkan catatan seismograf pada dua hari lalu terjadi peningkatan kegempaan dari hari-hari sebelumnya, terutama vulkanik dangkal. Pada 3 Desember, terjadi gempa vulkanik dangkal sebanyak delapan kali, kemudian keesokan harinya terjadi gempa vulkanik dangkal 12 kali, tektonik lokal tiga kali, tektonik jauh dua kali, dan gempa hembusan satu kali.
Dengan peningkatan status tersebut, semua jalur pendakian ke Gunung Sindoro ditutup. "Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pendakian. Semua jalur pendakian ditutup," katanya.
Bertita Lain Terkait Aktivitas Gunung Sindoro :
Related posts :
1 komentar for this post
Leave a reply
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional









Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau
Anonim
9 Desember 2011 21:07
test