www.diengplateau.com
Silahkan Kirim Email Ke : info@diengplateau.org
Dieng Milik Siapa, Wonosobo atau Banjarnegara ? 4
10:35Diskusi paling ramai beberapa hari ini adalah soal Banjarnegara dan Wonosobo, pihak luar yang belum tahu persis soal Dieng banyak yang menyayangkan soal pemberitaan Bencana kawah Timbang, kalau ada bencana pasti yang disebut Dieng milik Banjarnegara dan giliran wisata yang bagus-bagus itu milik Wonosobo. hal ini terjadi karena kurang pahamnya masyarakat terhadap Dieng, Dieng merupakan kawasan yang sangat luas, dan kalau bicara wisata juga akan lebih luas lagi, karena wisata merupakan kegiatan di area tanpa batas kewilayahan.
kalau bicara soal Dieng antara yang masuk wilayah Banjarnegara dan Wonosobo sebenarnya hanya permasalahan kecil karena hanya dibatasi oleh kali Tulis. dan kita jangan berpikir kalau kali tulis ini lebarnya mirip seperti kali progo, sungai serayu yang berada di Cilacap karena kita akan kecewa seperti yang dialami beberapa mahasiswa yang sedang bertugas di Dieng untuk pembuatan Film Partisipatif bersama dengan FPPKD. ketika ditunjukkan lokasi kali tulis, mereka masih tetap bertanya dimana kali/ sungai nya karena yang didepan mata mereka adalah parit kecil sekitar 1-1,5 meter yang berada pada perbatasan desa Dieng Wonosobo dan Dieng Kulon Banjarnegara.
Perbedaan persepsi dan upaya persaingan dan saling klaim merupakan pekerjaan yang tidak produktif, karena Dua Kabupaten ini sebenarnya memiliki saling ketergantungan, bolehlah orang mengkalim bahwa Banjarnegera memiliki wliayah yang lebih luas, akan tetapi soal akses jalan menuju Dieng wisatawan lebih memilih Wonosobo sebagai jalurnya, bahkan orang dinas Banjarnegara sendiri kalau mau ke Dieng juga melalui jalur tersebut.Tidak dapat kita bayangkan apa yang akan terjadi ketika kemudian muncul persaingan yang tidak sehat mulai dari masyarakatnya, dinasnya dan pelaku wisatanya dll.
Penyatuan persepsi dan Komunitas sebenarnya pernah dilakukan oleh Dinas Pariwsata Provinsi Jawa Tengah dan LSM, sekaligus penanda tanganan pengelolaan bersama yang dilaksanakan di Losari Cafe Plantation Magelang beberapa tahun silam, yang telah berhasil memunculkan banyak kesepahaman dan kesepakatan.


Pada awalnya persatuan masyarakat dikawasan Dieng sangat Bagus yang meliputi 17 Desa yang berdekatan dengan Kawasan Poros dan Jeruji Dieng, mulai dari Kelompok Kesenian,kelompok kerajinan,pedagang, homestay dll. akan tetapi sekitar 3 tahun terakhir ini mulai muncul kelompok-kelompok yang merasa lebih dominan, Memiliki Keunggulan dibanding yang lain dan menafikkan kelompok yang lain yang lebih kecil, bahkan ada anggapan yang boleh berusaha wisata hanya orang Dieng yang asli,maksudnya yang diluar desa Dieng tidak boleh berusaha, belum diketahui jelas sebenarnya siapa yang menggerakkan mereka akan tetapi kalau dilihat dari berbagai hal dapat dilihat bahwa ada pihak luar yang menggerakkan masyarakat tersebut.dan sebagaian besar masyarakat juga sudah tahu siapa sebenarnya yang jadi penggerak upaya pemisahan tersebut.pihak yang lebih senang apabila wilayahnya dipandang lebih unggul dari yang lain, karena pekerjaannya akan dianggap hebat dan cepat naik pangkat atau naik gaji dan sejenisnya.
Upaya mereka untuk selalu tampil didepan disatu sisi merupakan upaya yang sangat bagus akan tetapi disisi lain dapat melemahkan orang maupun desa lain untuk mendukung kepariwisataan Dieng, contoh nyata adalah ketika diadakan karnaval kesenian, desa lain sudah tidak mau lagi tergabung dengan desa lainnya karena merasa hanya dimanfaatkan oleh kelompok dominan tersebut dan sudah dua kali merasa dibohongi. padahal sebenarnya masyarakat banyak yang rindu untuk dapat kembali seperti dulu lagi, bersatu, tidak dibeda-bedakan dan mendapat tempat untuk berekspresi.
| Kali Tulis yang menjadi batas adminitrasi dua Kabupaten |
Dieng adalah Dieng tidak perlu lagi disebutkan sebagai Banjarnegara maupun Wonosobo, soal kewilayahan hanya bentuk administrasi yang sudah tidak perlu diperdebatkan,karena saling klaim tanpa ada tindakan perbaikan dan persaingan sehat menuju perbaikan, semua hanya percuma saja dan kontra produktif dengan upaya pengembangan Dieng. lebih bagus lagi semua masyarakatnya bersatu dan saling menghargai, saling membutuhkan untuk pengembangan wisata sebagai alternatif ekonomi pengganti pertanian yang akhir -akhir ini sudah tidak dapat
diandalkan lagi.
Semua Orang butuh Hidup,dan kehidupan yang baik adalah yang dapat saling membantu, saling membutuhkan saling menghargai, berguna bagi sesama dan jangan biarkan yang lain mati asalkan diri kita dapat hidup.
Sampai kapanpun Dieng adalah Dieng Jawa Tengah Indonesia.hal ini juga yang dulu selalu dilakukan oleh FPPKD yang tidak mau menyebutkan Dieng sebagai Banjarnegara atau Wonosobo. Dieng adalah Jawa Tengah Indonesia.
tafrihan.diengplateau.com
Dimana tanah impian itu berada ?. pertanyaan ini selalu saja menggelayut diotak, hati dan pikiran. Disini... tanah,hutan dan air tidak seperti dulu lagi dimana manusia dapat berebut untuk mendapatkan tanah garapannya dengan cara yang mudah melempar lembing sejauh mungkin, maka itulah tanah garapannya. tanah kita seolah makin sempit saja,karena jumlah penghuninya terus bertambah.
Pulau Jawa diduduki lautan manusia yang menyemut, Diengpun mengalami hal yang serupa, penghuninya terus berdesakan untuk bertahan hidup, sambil menunggu ajal menjemput.
Pemukiman warga mulai berdesakan.tanah garapan hanya tinggal sejengkal, sementara kebutuhan hidup dan harga-harga kebutuhan hidup terus merambat naik menginjak-injak harga diri manusia. Lalu sampai kapan akan terus bertahan ?
Pulau Jawa diduduki lautan manusia yang menyemut, Diengpun mengalami hal yang serupa, penghuninya terus berdesakan untuk bertahan hidup, sambil menunggu ajal menjemput.
Pemukiman warga mulai berdesakan.tanah garapan hanya tinggal sejengkal, sementara kebutuhan hidup dan harga-harga kebutuhan hidup terus merambat naik menginjak-injak harga diri manusia. Lalu sampai kapan akan terus bertahan ?
Jangan berpikir untuk berkembang karena bertahan saja sudah sulit. Desakan pada alam, pada tanah, pada hutan dan pada air semakin kuat, alam terus dipaksa untuk memenuhi kebutuhan manusia yang jumlahnya terus bertambah. Siapa yang salah ? apakah masyarakatnya ? salahkah mereka untuk mempertahankan hidup ?. atau sebenarnya ada salah lain yang selama ini kita tutup-tutupi.
Alam dan lingkungan kita ada ukurannya ada batas kemampuannya ada batas daya dukungnya, disisi lain ketidak seimbangan sudah terlihat dengan jelas, antara jumlah penghuninya dengan daya dukung lingkungan sudah sangat tidak seimbang. Bagaimana kita dapat sejahtera, bagaimana kita dapat bertahan dan alam dapat bertahan ?.
Bisa jadi Dieng adalah Dreamland bagi wisatawan tapi itu semua tidak berlaku bagi warganya. Sangat ironis manakala dreamland dihuni oleh orang-orang miskin dan terus terancam krisis sosial,ekonomi dan terancam
generasi mendatangnya. Lalu apa artinya ketika keindahan dan keunikan Dieng belum memberi efek ekonomi bagi penghuninnya.sama saja dengan hidup miskin di surga. aneh tapi sudah terjadi dan bisa jadi akan semakin parah dikelak kemudian hari.
Hari demi hari semakin makin sering terdengar keluhan, rintihan menyayat dari warganya, karena terjerat hutang, gagal panen, harga panen sangat murah dan keterpaksaan untuk terus melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak mereka inginkan lagi, ini semua sudah berlangsung bertahuan-tahun bermusim-musim kentang, sampai anak yang dulu kecil dan bingung sekarang sudah tumbuh dewasa dan semakin bingung mau berbuat apa.
Dreamland untuk warga kawasan Dieng memang masih perlu terus dicari, tanah harapan, tanah impian yang sangat mungkin berada jauh diluar jawa, di Kalimantan, di Sumatra, di Papua, di Sulawesi atau entah dimana.
Tanah yang disekitarnya masih banyak hutan rimba,air mengalir dengan jernih yang banyak dihuni ikan dan udangnya, tanah lapang untuk pemukiman yang teratur dan sehat , tidak berdesak-desakan seperti sangkar burung dara, ada tempat ibadah yang menyejukkan jiwa, dan tanah garapan yang hasil panenanya terlindungi oleh penguasa negeri bukan seperti saat ini, dilokasi tersebut terbangun jalan - jalan yang memadai untuk interaksi sosial dan ekonomi.
Dreamland itu pasti ada tapi warga Dieng belum ada yang tahu tempatnya dimana, jauhnya seberapa dan siapa yang akan mengantarkan mereka kesana.Telah banyak warga yang mencoba menemukan dreamland diluar sana, berbekal kerinduan akan ketercukupan sandang pangan, terpicu oleh tangisan anak istri agar bisa diam dan tertuju pada harapan perbaikan hidup dan kehidupan.
Banyak warga pencari dreamland yang akhirnya mati, pulang sudah dalam kemasan peti, menyisakan haru dan ngilu didada warga lain yang menunggu kabar baik agar dapat ikut pindah ke tanah impian.
Semua sia-sia ketika penguasa belum berpihak pada warga, semua percuma ketika penguasa seolah raja, Uluran tangan yang dinantikan tak kunjung tiba karena mereka terlena dan silau dengan harta dan kedudukan semata.
Dreamland itu pasti ada, karena indonesia begitu luasnya, dreamland itu pasti ada kalau para penguasa mau menunjukkannya, dreamland itu sempurna ketika perpindahan warga Dieng telah dipersiapkan dengan seksama.
Dreamland itu solusi untuk memperlambat kehancuran bumi Dieng.
Dreamland itu kunci pembuka kesadaran penguasa untuk berbagi
Dreamland itu harapan warga yang belum pernah terpenuhi
Dreamland itu pintu kesadaran bersama
Dreamland itu mimpi yang akan terwujud entah berapa lama lagi
Dreamland itu solusi untuk memperlambat kehancuran bumi Dieng.
Dreamland itu kunci pembuka kesadaran penguasa untuk berbagi
Dreamland itu harapan warga yang belum pernah terpenuhi
Dreamland itu pintu kesadaran bersama
Dreamland itu mimpi yang akan terwujud entah berapa lama lagi
tafrihan.diengplateau.com
Wonosobo adalah kota yang tak asing buatku. Meskipun aku bukan tinggal atau berasal dari kota ini, tapi setahun sekali aku wajib mengunjungi kota ini. Om dan tante ku kebetulan bekerja di kota sejuk ini. Tak terhitung berapa kali aku menyambangi kota favoritku ini, tapi yang pasti, setiap aku mengikjakkan kaki di bumi Dieng ini wajib hukumnya untuk pergi ke Telaga Menjer. Terakhir kali aku mengunjungi Telaga Menjer ini adalah saat libur lebaran tahun 2011 lalu. Mungkin saja keberadaan telaga ini tidak seterkenal obyek wisata di Dieng Plateau, namun aku berani bertaruh, keindahannya akan membungkam keraguan yang kita miliki. Tenang, hijau, dan cantik.
Memulai perjalanan ke Wonosobo dari Kota Solo bisa ditempuh sekitar 5-6 jam perjalanan dengan menggunakan bus atau mobil travel. Bus Dwi Martha Jurusan Solo-Banjarnegara bisa menjadi salah satu alternatif transportasi umum. Dengan menggunakan bus ini, penumpang bisa turun di Kota Wonosobo dan berganti angkutan umum lain sesuai tujuan. Tetapi jika ingin nyaman, menggunakan jasa travel akan lebih tepat. Namun, rata-rata travel dengan jurusan Solo-Wonosobo akan dialihkan saat transit di Kota Gudeg Jogja karena memang jarang jasa travel yang membuka rute Solo-Wonosobo langsung.
Atau dengan mengkombinasikan kedua jenis transportasi itu, berangkat dari Kota Solo dengan menggunakan bus menuju Yogyakarta, kemudian berganti menggunakan jasa travel dari Kota Gudeg dengan tarif sekitar 40-50 ribu rupiah, jasa travel ini memberangkatkan penumpang setiap dua jam sekali. Namun khusus tarif liburan waktu itu naik hampir 100 %. Berangkat dari Kota Solo pukul 10.00 dan sampai di Jogja sekitar pukul 11.30. dan 30 menit kemudian travel menuju Wonosobo pun merangkak meninggalkan Kota Pelajar itu. Siang itu travel cukup penuh, mungkin karena memang bertepatan dengan hari libur sekaligus weekend. Beberapa mahasiswa asal Wonosobo yang kuliah di Jogja terlihat akan pulang kampung siang itu, ada juga sepasang kakek nenek yang selalu protes jika AC mobil terlalu dingin, ada pula perempuan usia 20-an yang mengaku ada bisnis di Wonosobo. Usut punya usut, ternyata perempuan itu mengantarkan pesanan 20kg belut hidup ke kota yang terkenal dingin itu. Alamakkk... untung aku baru tahu setelah mbak-mbak pawang belut itu turun.
Sesampainya di Wonosobo, saat senja merah menyapa, mobil travel ini mengantarku ke rumah Om dengan selamat, sehat, sentosa. Dan mandi sore pertama dengan air dingin khas Wonosobo cukup membuat badan segar, mata melek, dan tentu saja perut yang semakin keroncongan. Malam itu, Om dan tante mengajak makan malam di sebuah rumah makan steak. Jangan bayangkan rumah makan steak ini seperti rumah makan-rumah makan steak di Kota Solo. Rumah makan ini cukup kecil, terdiri dari dua lantai. Bangunan dengan dominasi warna zebra dan aksen kayu ini bernama Fresh Steak n Shake. Rata-rata pengunjungnya adalah anak-anak muda dan menu makanannya standar menu rumah makan steak. Rumah makan ini cukup terkenal di Wonosobo, selain lokasinya di tengah kota dan mudah dijangkau, sepertinya rumah makan steak ini merupakan salah satu rumah makan steak terlaris diantara tiga rumah makan steak lainnya. Bandingkan dengan banyaknya rumah makan steak di Kota Solo yang jumlahnya bisa mencapai tiga kali lipat.
Telaga Menjer
Keesokan harinya, tujuan wisata pertama adalah Telaga Menjer. Telaga ini terletak di Desa Menjer di Kecamatan Garung berjarak 12 km dari Wonosobo menuju Dieng Plateau. Pintu masuk Telaga Menjer ini bertuliskan “PLTA GARUNG”. Ya, telaga ini merupakan sumber listrik bagi masyarakat dengan di bangunnya PLTA, itulah mengapa pintu masuk telaga ini bertuliskan PLTA GARUNG dan terdapat pipa-pipa raksasa di sekitar telaga ini. Setelah melewati beberapa jalan menikung dan naik turun, sampailah ke tempat parkir yang merupakan lapangan dengan pos loket, kamar mandi, musholla, dan beberapa rumah di sekitarnya. Tiket masuk dijual seharga 3000 rupiah, harga yang murah untuk sebuah obyek wisata alam.
Menginjakkan kaki di halaman utama Telaga Menjer ini, cukup memberi kesan bahwa tempat ini sudah cukup lama dan sedikit tidak terawat. Tak banyak yang berubah dari Telaga ini, kecuali pagarnya saja yang terlihat baru. Beberapa mainan anak-anak sudah berkarat di sana-sini, di beberapa bagian juga terlihat rusak. Dan sebuah bangunan berlumut yang tak jelas apa fungsinya. Segerombolan anak laki-laki terihat bermain bola di lapangan ini, dan sepertinya mereka tak perlu mengeluarkan uang untuk bisa memasuki obyek ini.
Cukup puas melihat di halaman utama, dan kini mulai menuruni sejumlah anak tangga yang menuju ke bawah untuk melihat Telaga Menjer. Dan rasanya mata ini tak ingin berkedip melihat keindahan telaga ini, segala kepenatan dan kelelahan pun terbayar lunas. Telaga Menjer, sebuah telaga yang berbentuk kerucut dengan kedalaman sekitar 147 m. Bersuhu antara 22-27 derajat celcius dan berbentuk seperti kawah di gunung, di kelilingi oleh bukit hijau pohon pinus dan cemara yang akan membuat setiap orang betah berlama-lama dan bernafsu menghabiskan seluruh kartu memori kamera digitalnya. Sungguh, walaupun hampir setiap tahun aku mengunjungi telaga ini, rasa takjub ku takkan pernah habis. Keindahan dan ketenangan yang dimiliki menebarkan pesona dalam diamnya.
Perahu-perahu kayu yang ditambatkan siap mengantar ku mengelilingi telaga yang pernah di kuras awal tahun 1980 ini. Perahu-perahu ini disewakan dengan harga sekitar 60 ribu rupiah dan bisa memuat hingga 12 orang. Namun jangan khawatir, harga sewa ini bukan harga mati kok . Aku pernah menyewa perahu ini dengan harga 40 ribu rupiah.
Hampir dua jam menghabiskan waktu untuk menikmati indahnya ciptaan Yang Maha Hidup seakan baru setengah jam yang lalu berada di Telaga yang “tersembunyi” ini. Keindahannya tak akan membuat lelah mata namun akan membuat hati berjanji akan kembali suatu saat nanti.
Naskah Oleh :
Fannani Norrohmah (Fanni)
Jl. Surya 2 No. 8 RT 02 RW 25, Kentingan, Jebres, Surakarta 57126
ID DPC : 14.01/14.02
Bicara soal traveling, saya merasa wajib bercerita mengenai Wonosobo. Sebagai traveler ulung, traveling lebih menyenangkan jika dilakukan secara independen, tanpa ikut paket tur sehingga waktu berwisata sangat fleksibel dan semua jadi suka-suka kita. Itulah yang saya lakukan bersama teman-teman pada Juli 2010 berwisata ke Wonosobo.
Berpasukan sembilan orang, pukul 15.00 kami berangkat dari Yogyakarta menuju Wonosobo dengan dua mobil pribadi. Sekitar empat jam perjalanan terlewati dengan cukup menyenangkan, walaupun sempat berjumpa dengan macet cukup lama di Magelang dan sempat nyasar sekian menit di Temanggung.
Sampai di Wonosobo, hari sudah gelap. Waktu itu jam menunjukkan pukul 19.00 dan kami memutuskan untuk shalat terlebih dahulu. Kami pun menuju ke Masjid Agung Jami’ yang berlokasi di sekitar alun-alun Wonosobo. Beberapa menit selepas shalat, kami melanjutkan perjalanan.
Dan perburuan kuliner khas kota ini tentu menjadi prioritas selanjutnya. Sasaran kami tentu saja mi ongklok. Mi ongklok ini berbeda dari mi pada umumnya karena menggunakan kuah / sauce dari tepung kanji. Tekstur sauce mi ongklok ini sangat khas, yakni berbentuk pasta dan kental. Sembari menikmati mi ongklok, kami pun tergoda memesan sate ayam. Tapi karena pengiritan dana sedang digencarkan, kami hanya memesan dua porsi sate ayam untuk sembilan orang. But it was fun di mana sembilan tangan bergerumul berebut tusuk sate.
Usai berkuliner, kami melanjutkan perjalanan mencari homestay. Kami mendapatkan homestay di dekat Gunung Sikunir. Harga sewa cukup terjangkau, Rp 75.000,00 per kamar single-bed atau Rp 150.000,00 double-bed per-malam. Pemilihan homestay berdasarkan kedekatan lokasinya dengan Gunung Sikunir karena rencana kami memang akan mendaki Sikunir keesokan harinya.
Setibanya di homestay, ketika teman-teman sedang beristirahat dan berbincang santai di ruang TV, saya iseng mandi merasakan dinginnya air. Waktu itu pukul 22.12 dan saya memang sadar ketika memutuskan untuk mandi. Dingin, jangan ditanya… Tapi segar, tiada duanya.
Pukul 23.00 WIB satu per satu dari kami masuk kamar dan tidur. Keesokan harinya, ingat sekali, pukul 02.00 WIB salah satu teman saya, yang sangat antusias mendaki Sikunir, sudah menggedor-gedor kamar kami. Masih terkantuk-kantuk, kami berusaha membuka mata melawan kantuk dan dingin yang semakin menyerang.
Pukul 03.00 WIB kami berangkat menuju Sikunir. Perjalanan menuju Sikunir menggunakan mobil dan dipandu oleh salah seorang penduduk lokal yang bersedia mengantar kami. Ada satu pengalaman menegangkan di sini. Ketika itu pagi masih buta, dan tentu saja gelap. Perjalanan menuju Sikunir melewati hutan dan bukit tanpa penerang jalan. Menit-menit selanjutnya, suasana justru semakin mencekam karena benar-benar tidak ada pencahayaan lain selain lampu kendaraan kami. Beberapa menit mobil melaju, kami pun tidak tahu pasti ke mana arahnya. Sampai akhirnya, sayup-sayup kami mendengar suara orang mengaji. Untunglah beberapa meter kemudian kami menemukan perkampungan. Kami memarkir kendaraan di sudut jalan. Pemandu kami berkata bahwa kampung ini adalah perkampungan terakhir sebelum gunung.
Suara orang mengaji masih terdengar. Semakin lama semakin keras seiring dengan perjalanan kami menuju masjid. Pikir kami, suara mengaji adalah pertanda sudah mau masuk waktu shalat subuh. Dan ketika kami sampai di masjid untuk menunggu waktu subuh, jeng…jeng…jeng…ternyata di dalam masjid sedang disemayamkan orang meninggal.
Kami hanya menelan ludah melihat keranda hijau dengan rangkaian bunga yang masih segar. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi melarikan diri. Dead air beberapa saat karena kami bingung melihat pemandangan di depan mata. Untuk mengalihkan situasi dan juga untuk mempersingkat waktu, kami memutuskan untuk berwudhu saja. Berwudhu ini pun kami gerudukan dan dilakukan secara massal karena ketakutan.
Tiba adzan subuh, kami berbondong-bondong masuk masjid. Shalat subuh pun rasanya kurang khusyuk dan takut karena keranda jenazah ada di belakang kami. Seusai shalat subuh, kami segera ngacir keluar masjid.
Kami pun bergegegas menyambut matahari di puncak. Langkah demi langkah kami lalui meninggalkan perkampungan menuju jalan setapak pegunungan. Dengan penerangan seadanya yakni cahaya bulan dan senter handphone, kami mendaki badan Sikunir dengan pasti.
Dalam kegelapan, ngos-ngosan, terseok-seok mendaki, akhirnya kami sampai juga di puncak Sikunir. Here is it… 2350 mdpl begitu mempesona. Segala keletihan terbayar sudah dengan pemandangan di puncak ini. Gunung Sindoro, Sumbing, dan secuil siluet Merbabu terlihat begitu gagah bisa kita nikmati dari puncak Sikunir.
Kami berada di puncak ini cukup lama, menghabiskan waktu sun rise di sini. Sekitar pukul 06.15, kami memutuskan untuk turun gunung. Perjalanan turun kami lewati masih dengan jalur yang sama. Sebelum pulang, kami memberi sedikit tip kepada pemandu. Tidak mahal, kami memberinya Rp 50.000,00.
Tibalah kami di homestay lagi. Kami segera memesan mi rebus untuk mengganjal perut dan menghangatkan badan. Beberapa dari kami mandi terlebih dahulu dan bergantian dengan teman kami yang sarapan terlebih dahulu. Pukul 09.00, kami check out dari homestay melanjutkan wisata.
Traveling selanjutnya menuju Kawah Candradimuka. Perjalanan kami terhenti di tengah jalan karena jalan menuju kawah sedang dalam perbaikan. Kami pun berputar arah dan langsung menyerbu Kawah Sikidang. Sesampainya di sana, tak ingin buang waktu, kami segera berpose di depan kawah yang asapnya begitu pekat.
Setelah puas berfoto di Kawah Sikidang, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan wisata Candi Dieng. Memasuki pelataran candi, kami disambut pengamen yang memainkan gending jawa dari alat gamelan sederhana yang mereka mainkan. Rasanya, syahdu sekali.
Selepas dzuhur, kami bergerak menuju sasaran wisata selanjutnya. Telaga Warna begitu sempurna dikunjungi. Kami melangkah menyusuri tapakan jalan danau ini. Usai menjelaja Danau Telaga Warna, kami beralih ke danau yang lain. Menjer, begitu tenang dan damai, sempurna untuk menggalau hahaha… Telaga Menjer dikepung bukit-bukit tinggi sehingga memberi kesan spooky. Kita pun bisa menyewa perahu untuk menjelajahi danau ini.
Menjer kami tinggalkan. Tujuan selanjutnya adalah perkebunan teh, Teh Tambi. Di tempat ini kami tidak sempat mengelilingi perkebunan karena mendung. Kami hanya beristirahat dan berjalan-jalan di sekitar pabrik teh.
Usai berwisata, kami memutuskan untuk pulang. Sebelum benar-benar meninggalkan Wonosobo, kami mampir di kawasan pasar induk Wonosobo untuk berburu carica. Sedikit sulit mencari arena parkir karena saat itu kawasan pasar begitu padat. Kami harus memarkir kendaraan kami sekitar 100 meter jauhnya dari toko yang kami tuju. Dan, menit-menit kemudian, beberapa kardus carica berhasil kami borong. Jajanan kecil khas Wonosobo pun juga kami beli sebagai cindera mata dan bukti bahwa kami sudah resmi menjelajah Wonosobo.
Terima kasih, Wonosobo cantik
Naskah Oleh :
Tanalyna Hasna (Alyn)
Jomblangan RT 04/003 Banguntapan Bantul Yogyakarta 55198
ID DPC : 12.01/12.02
Hancurnya perekonomian masyarakat kawasan dataran tinggi Dieng banyak menyisakan keharuan bagi kita semua, kebiasaan hidup yang dipenuhi dengan ketersediaan banyak hal kemudian berganti dengan keterbatasan dari segi makanan dan keperluan hidup yang lain.
Semua menderita tentunya karena harus mengalami perubahan drastis dari kebiasaan yang ada, kakek-nenek renta masih harus bekerja, kuli dan buruh tani kekurangan makan, penyitaan jaminan oleh pihak Perbankan terdengar dimana-mana, orang melarikan diri karena tanggungan hutang, pekerja mati diperantauan,dll
tapi kata temanku ada lagi yang lebih menderita yaitu orang yang mau buang air besar ,Lha kok bisa tanyaku , kemudian dia menjelaskan lebih rinci dengan nada yang sangat meyakinkan begini mas, orang yang paling menderita adalah orang yang malam-malam kebelet buang air besar, mau ke WC rumah tapi terkunci dari dalam, kemudian dia lari keluar menuju MCK umum yang jaraknya lumayan jauh, di jalan dia tersandung batu dan jatuh, karena suaranya jatuhnya cukup keras sampai-sampai membangunkan anjing milik tetangga,karena tidak di ikat dengan kuat, anjing tersebut kemudian mengejarnya,dengan sudah payah akhirnya ia dapat terbebas dari kejaran anjing dengan cara bersembunyi di lorong rumah warga, baru saja agak lega bernafas walaupun sambil menahan kebeletnya tiba-tiba ada beberapa warga yang sedang ronda dan melihat ada sosok manusia yang bersembunyi, secara spontan mereka langsung meneriakinya maling, tanpa pikir panjang sejumlah warga tersebut langsung menyeretnya lalu menggebuki, menendang, menghantam dengan pentungan sampai dia benar- benar babak belur dan akhirnya diserahkan ke Polsek setempat lalu dibawa ke ruang ICU Rumah Sakit, dialah manusia yang paling menderita , dia menjelaskan dengan nada bangga.
Semua menderita tentunya karena harus mengalami perubahan drastis dari kebiasaan yang ada, kakek-nenek renta masih harus bekerja, kuli dan buruh tani kekurangan makan, penyitaan jaminan oleh pihak Perbankan terdengar dimana-mana, orang melarikan diri karena tanggungan hutang, pekerja mati diperantauan,dll
tapi kata temanku ada lagi yang lebih menderita yaitu orang yang mau buang air besar ,Lha kok bisa tanyaku , kemudian dia menjelaskan lebih rinci dengan nada yang sangat meyakinkan begini mas, orang yang paling menderita adalah orang yang malam-malam kebelet buang air besar, mau ke WC rumah tapi terkunci dari dalam, kemudian dia lari keluar menuju MCK umum yang jaraknya lumayan jauh, di jalan dia tersandung batu dan jatuh, karena suaranya jatuhnya cukup keras sampai-sampai membangunkan anjing milik tetangga,karena tidak di ikat dengan kuat, anjing tersebut kemudian mengejarnya,dengan sudah payah akhirnya ia dapat terbebas dari kejaran anjing dengan cara bersembunyi di lorong rumah warga, baru saja agak lega bernafas walaupun sambil menahan kebeletnya tiba-tiba ada beberapa warga yang sedang ronda dan melihat ada sosok manusia yang bersembunyi, secara spontan mereka langsung meneriakinya maling, tanpa pikir panjang sejumlah warga tersebut langsung menyeretnya lalu menggebuki, menendang, menghantam dengan pentungan sampai dia benar- benar babak belur dan akhirnya diserahkan ke Polsek setempat lalu dibawa ke ruang ICU Rumah Sakit, dialah manusia yang paling menderita , dia menjelaskan dengan nada bangga.
ha.. ha.. ada-ada saja temanku ini, lalu bagaimana dengan kehancuran perekonomiannya mas tanyaku..
dia menjawab dengan santai itu soal biasa, itu soal wajar dan lumrah karena merupakan akumulasi dari proses lama yang akhirnya seperti sekarang ini, dan ini belum seberapa mas,karena ini juga masih proses, kejadian sekarang ini belum selesai dan belum puncak, suatu saat nanti akan ada kejadian yang lebih parah dari ini dan keadaan masyarakatnya akan lebih rusak, runyam, ngenes dan nggegirisi tapi tetap tidak semenderita orang yang kebelet tadi.
Kecuali... lama dia termenung dan kali ini mungkin agak serius pikirku, kecuali ada pemotongan generasi ada pemotongan konsep hidup dan diganti dengan konsep baru, baik masyarakatnya, pemerintahnya dan semua orang yang berkepentingan dengan dengan Dieng.
Caranya tanyaku kemudian ...
Bangkit bersama untuk mandiri, berantas kemiskinan , kebodohan, kecupetan nalar, keegoisan, penipuan, keserakahan dll,
caranya tanyaku kemudian ... karena saya makin tidak mudeng
Ya itu tadi seperti yang sudah saya sebutkan mosok situ nggak paham berarti situ juga perlu diberantas karena cupet nalare
mungkin benar mas soal cupet nalare tadi tapi kalau saya pikir cara yang diatas sepertinya tidak mungkin, lha wong bangkit sendiri saja sulit malah disuruh bangkit bersama, apalagi mandiri wong kita saja selalu tergantung dengan orang lain, terlebih lagi mau memberantas kemiskinan... eh yang ini mungkin berhasil, jadi orang-orang miskin dapat diberantas sampai mati
kalau yang ini caranya sangat mudah yaitu dibiarkan saja tidak usah diurusi nanti juga orang-orang miskin akan mati sendiri.. mudah ,murah tidak perlu pemikiran yang dibutuhkan hanya ndableg.
ya.... tidak gitu tho mas, sampean itu terlalu banyak mikir jadiakan kesulitan sendiri... sesuatu itu tidak usah dipikir tapidikerjakan
Kesimpulannya kita harus mengerjakan sesuatu tanpa mikir gitu ..ya sama saja dong dengan memelihara kecupetan nalar yang akhirnya menghasilakn keegoisan,penipuan dan keserakahan....
mbuhlah makin bingung saja..
(obrolan didepan MCK umum)
(obrolan didepan MCK umum)
tafrihan.diengplateau.com
Dalam kondisi seperti ini, Jogjakarta jadi tidak menarik lagi bagiku,suntuk sekali rasanya, kumpul dengan teman-teman satu kos juga tidak dapat menghiburku, jalan-jalan ke Malioboro sama saja hanya membuat tubuh basah terkena hujan, nongkrong di lesehan dan makan di angkringan rasanya tidak enak. jangankan belajar atau bekerja, tidurpun tidak terasa nyaman apalagi jalan-jalan disini.
Sudah satu bulan lebih dua hari ini aku kehilangan arah, hatiku beku,pikiranku tidak terarah,mataku nanar memandang masa depan , ya... aku memang kacau sekali sejak ditinggal nikah oleh pacarku di kampung halaman. dia pulang dari Jogja dan tidak pernah kembali lagi. karena menikah dengan pacarnya dimasa lalu yang masih satu kota dengan dia.
Sudah satu bulan lebih dua hari ini aku kehilangan arah, hatiku beku,pikiranku tidak terarah,mataku nanar memandang masa depan , ya... aku memang kacau sekali sejak ditinggal nikah oleh pacarku di kampung halaman. dia pulang dari Jogja dan tidak pernah kembali lagi. karena menikah dengan pacarnya dimasa lalu yang masih satu kota dengan dia.
Sebagai cowok aku harus kelihatan tegar apalagi dimata teman-temanku, aku selalu mengatakan ah itu hal biasa dan cewek itu ribuan jumlahnya yang aku bisa pilih salah satu diantaranya tapi semua itu hanya kemunafikan yang aku kamuflasekan dengan kata-kata yang mantap agar semua orang percaya bahwa aku adalah lelaki tegar, padahal hatiku sakit, pecah berkeping-keping sulit sekali mencari lem agar hati ini dapat utuh kembali.
Kesumpekan yang menderaku,mematikan langkahku mematikan nalarku, mau lari ke pelukan narkoba atau minuman keras percuma saja hanya merusak otak dan jiwa raga, toch akhirnya permasalahan ini harus dihadapi juga malahan bisa mendapat dua atau tiga masalah nantinya, kalau sudah seperti ini kegiatan yang paling enak adalah naik gunung atau merenung ditempat tersembunyi, tanpa ada yang tahu keberadaanku,menghilang sesaat untuk mencari ketenangan bathin, merenung untuk menemukan strategi menghadapi hidup baru tanpa kekasihku, tapi betapapun aku masih mencintainya tapi mungkin sudah tidak dapat lagi menorehkan tinta kasih untuk mewarnai hari-hari berdua, bait-bait puisi kian terpenggal-penggal dan layu selayu bunga ditaman hati mantan kekasihku, semerbak aroma kembang kini pudar sudah dan kesedihan menggerogoti daun waru yang menempel pada asaku.
Ini benar-benar sudah sampai di persimpangan jalan sementara batu -batu sandungan tajam menyeringai didepanku menunggu kaki lemahku menari kesakitan diatasnya. Aku maklum bila dia bimbang untuk mendampingiku tuk terus mengayun langkah pada jalan derita ini, Ku maafkan bila dia lalu memilih jalannya sendiri yang lebih lurus dan empuk tanpa ada jurang dan onak berserakan.mungkin jalanmu sudah tepat jalanmu sepi dan nyaman tidak seperti jalan Jogja Magelang yang sumpek..
Aku kaget dan bangunkan dari pikiran yang menerawang, suara Kondektur bis sangat lantang terdengar "Magelang habis .... Magelang Habis..." buru-buru aku menyambar tas gunung yang sudah saya isi penuh perlengkapan naik gunung dibagasi..., kalau yang ini saya ingat betul soal bawaan, tadi saya masukan ke bagasi ketika naik bis dari terminal Jombor.
Aku termenung lagi duduk di kursi terminal Magelang, bingung mau kemana, ke gunung sindoro, sumbing atau ke Dieng plateau saja, HP aku matikan dari kemarin agar teman-temanku tidak menggangguku dan saat bingung seperti inipun mereka tidak akan pernah tau kalau aku lagi bingung.
Aku buka buku agenda untuk sedikit menuliskan apa yang ada diperasaanku saat ini.... kita sudah sampai pada persimpangan jalan sekarang dan kita melangkah sendiri - sendiri tanpa bergandengan tangan, tanpa tegur sapa dan tanpa ucapkan kata pisah....
Terkadang kesepian itu datang juga menyeruak ke dinding-dinding hati, tak kuasa kuusir sepi itu yang terus saja menyerbu, terkadang aku ingin pulang pada masa lalu saat aku masih bersamamu, menempuhi hari-hari penuh tawa canda...
Aku mendongak dan tanpa sengaja aku baca tulisan di kaca belakang bis kota bercat warna hijau jurusan Magelang Wonosobo "Ku tunggu Jandamu" aku tersenyum kecut.
"Excuse me" terdengar suara aneh ditelingaku " excuse me " dan ada tepukan tangan di pundakku " May I sit Down Here " ucapnya sekali lagi, aku masih bingung plonga-plongo sambil memandang kearahnya... Seorang cewek bule memandang kearahku dengan tatapan mata meminta dan berharap. dia tampak lusuh dengan sepatu traker , jeans, kaos oblong dan menggendong tas cukup besar seperti punyaku. "Oke Please no problem" balasku sekenanya. lalu dengan santainya dia duduk disampingku.
Hampir habis satu batang rokok, tidak terjadi percakapan apa-apa dengan dia, sampai kemudian dia menanyakan pada ku " have a light please " buru - buru aku ambil senter dari saku samping tasku. tapi dia malah bingung . "Light- smoking" pintanya oh maksudnya korek api tho. dasar aku memang bloon.
Korek zippo aku serahkan dan diapun membakar batang rokok yang sudah ada dimulutnya, ini cewek bule mirip ibu-ibu di dieng yang suka ngerokok pikirku sambil melihat dia menghisap rokok putihnya, aku pernah baca artikel di diengplateau.com tentang ibu-ibu yang suka merokok. kemudian suasanapun mulai cair,percakapan yang dicampur dengan bahasa isyarat juga akhirnya tampak mulai akrab
"Sabina" dia menjawab ketika aku tanyakan namanya, dia Gadis Jerman yang datang ke Indonesia seorang diri. bahasa Ingrisnya kacau bercampur dengan dialek Jerman yang sering sulit dipahami, tapi lebih kacau lagi bahasa inggrisku yang bercampur dengan dialek Jawa dan banyak kosa-kata yang belum aku pahami. ach cuek saja pikirku toh ada bahasa isyarat yang dapat dimengerti secara universal. bahasa isyarat adalah bahasa dunia pikirku.
Tak tahu kenapa saya merasa deg-degan juga ketika bertatapan mata dengan cewek ini, mata birunya sangat indah, aku lihat sebiru gunung dari kejauhan.Rambut pirangnya walaupun agak kumal masih terlihat memancarkan emas kecoklatan, wajahnya putih dengan sedikit bintik hitam tanpa make up. (ya iyalah masak ada bule kulitnya hitam emangnya pantat periuk di kos-kosan),nafasku tidak teratur sama seperti dulu saat pertama bertemu dengan mantan pacarku. " jangan-jangan " ach aku jadi takut sendiri dengan perasaanku sendiri. Aku bukan wedush pikirku masak baru satu bulan ditinggal nikahan sudah ada perasaan aneh lagi seperti ini. aneh....aneh.
Tidak tahu kenapa saya dan Sabina langsung akrab dan mulai dapat sedikit humor dengan gaya masing-masing. Sabina berrencana akan ke DiengPlateau, karena pernah melihat ada Surga kecil dipulau Jawa yang namannya diengPlateau, dia juga mendapat informasi tentang Dieng dari diengplateau.com,baik versi Englishnya maupun bahasa Indonesianya.
Dan akupun mengatakan sama aku juga akan ke Dieng jadi kita satu arah, akhirnya ada kesepaktan kami berdua menjadi friend dalam perjalanan.
Kami berdua naik bis bercat warna hijau jurusan Magelang Wonosobo,tapi aku tidak mau naik bis yang dikaca belakangny ada tulisan "kutunggu jandamu", karena sangat menghinaku saat ini, aku menjadi semacam penunjuk jalan bagi dia karena yang lebih tahu bahasa Indonesia jelas saya apalgi bahasan jawa, wong saya lahir dan besar di jawa jadi sejak kecil saya sudah menguasai dua bahasa yaitu bahasa jawa dan bahasa Indonesia.
Pertigaan Secang sudah kami lewati dan bispun meluncur ke arah kota Temanggung, penumpangnya tidak terlalu penuh sehingga bis dapat meluncur dan meliuk dengan lincah diiringi musik dangdut dari audio system disamping pak sopir.
Percakapanku dengan Sabina terkadang harus lebih dekat kekupingnya karena suara musik dangdut dari salon bis cukup keras dan mengganggu percakapan antar penumpang. "Joko" the meaning is A Man like Mattew, Andrew or Klinsman jelasku karena sedari tadi dia senyum -senyum sendiri ketika aku sebutkan namaku dikira Joko itu sama dengan Joke atau lelucon akhirnya diapun manggut-manggut sambil tetap tersenyum. Joko is javanesse name with the spririt for strugle " jelas yang ini aku tambah-tambahi sendiri agar Sabina dapat lebih terkesan.
Kondektur bis menanyakan tujuan sambil menulis di buku kecil dan menyerahkan tiketnya padaku , Sabina merogoh walletnya yang digantung dileher dan dimasukkan dalam kaos, "no...no lets me". kataku sambil menyerahkan uang ke kondektur bis. gengsi dong masak ada cowok di bayarin cewek emang aku cowok apakah ? gini - gini aku sudah nyambi kerja di Jogja dan bayaranku juga cukup lah sekitar sepuluh koma sekian... maksudnya setelah tanggal sepuluh langsung koma... gitu..
Kondektur bis menanyakan tujuan sambil menulis di buku kecil dan menyerahkan tiketnya padaku , Sabina merogoh walletnya yang digantung dileher dan dimasukkan dalam kaos, "no...no lets me". kataku sambil menyerahkan uang ke kondektur bis. gengsi dong masak ada cowok di bayarin cewek emang aku cowok apakah ? gini - gini aku sudah nyambi kerja di Jogja dan bayaranku juga cukup lah sekitar sepuluh koma sekian... maksudnya setelah tanggal sepuluh langsung koma... gitu..
bersambung...........................
Joko thing-thing
DIENGPLATEAU.COM - (Dieng Plateau , Exo Beautastic !) Mendongak dan sentuh langitnya , berpijak dan lihat jejaknya , bernafas dan hembuskan wanginya , terjaga dan arungi tiap sudutnya , diam dan dengar irama rimbanya , terpejam dan rasuki harmoni-harmoni yg berdenting bergantian menjadi nyawa-nyawa eksotika dataran tinggi tempat dewa dewi bersemayam , Dieng .
Menurut Wikipedia.org secara geografis dataran tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik yang terletak di antara Kabupaten Banjarnegara dengan Kabupaten Wonosobo sebelah barat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dengan ketinggian sekitar 2000m di atas permukaan laut.
Mendengar cerita dari beberapa rekan yang telah berkunjung ke Dieng dengan begitu histerianya membuat saya dan teman-teman satu kelas saya menjadi cukup tergiur sampai ke ubun-ubun untuk ikut menjamah setiap lekuk keindahan Dieng pada 21 April 2009 lalu.Memang sudah cukup lama , tapi sajian keindahan alam , kekentalan budaya , dan suasana natural selalu tersimpan segar dalam ingatan.



Setelah semua rombongan yang berjumlah 16orang terkumpul , perjalanan menuju Dieng dimulai dari Semarang pukul 06.00 pagi dengan konvoi menggunakan sepeda motor.Empat jam perjalanan yang kami lalui serasa lebih singkat dengan suguhan area perkebunan teh dan hutan merah yang memagari kanan kiri jalan ketika mulai memasuki daerah Temanggung.Sekitar pukul 10.00 pagi kami sudah mulai memasuki kawasan Dataran tinggi Dieng.Lembah dan perbukitan serta ladang yang berpola menjadi pemandangan asing yang tidak bisa kami temukan di perkotaan.Konstruksi bangunan-bangunan sekitar dan jalan raya pun sudah dibangun dengan cukup baik,meskipun ada beberapa kondisi jalan yang masih berlubang,hanya saja yang perlu diwaspadai adalah beberapa ruas jalan yang memang agak sempit.
Udara yang sejuk mendekati dingin atau hampir dingin dan memang benar-benar terasa dingin khususnya bagi penghuni kota yang panas membuat aktivitas sistemik tubuh meningkat sehingga membutuhkan asupan energi yang lebih banyak alias kelaparan.Sembari berjalan-jalan konvoi pelan kami menemukan sebuah warung masakan padang di tepian jalan.Yah , walaupun judulnya warung makan padang karena terletak di gunung jadi cita rasa tetap terkontaminasi dengan aliran masakan gunung.Hanya saja sedikit tata cara yang membuat kami bingung sistem di warung masakan padang sekecil ini adalah prasmanan dan all you can eat. Nasi porsi jumbo ( dua orang makan kenyang), sayur , rendang , ayam goreng , tempe goreng dan segelas teh hangat jumbo pula cukup merogoh kocek Rp8000,- .
Lokasi wisata pertama yang kami kunjungi adalah Telaga Warna.Cukup dengan Rp3000,- kami bisa masuk ke dalam area danau yang bernuansa serasa di Eropa namun kental dengan budaya dan mistik Indonesia.Konon katanya Telaga Warna airnya dapat berubah warna menjadi biru dan beberapa warna lain,namun saat kami berkunjung airnya berwarna hijau serta beberapa pohon tumbang di tepian yang justru menambah keunikan dan kesan alami danau.Tidak hanya ada danau di obyek wisata ini, saat kami berkunjung di sini ada juga beberapa turis asing salah satu nya dari vietnam yang sedang asyik mendengarkan penuturan dari guidenya tentang batu tulis , gua jaran , gua semar , gua sumur dan patung gajah mada yang ada di dalam komplek Telaga Warna.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kawah si Kidang setelah hampir dua jam mengelilingi Telaga Warna.Karena kami memiliki guide otodidak yang hafal dengan secret rute menuju kawah Si Kidang jadi kami hanya merogoh kocek Rp0,- untuk memasuki area kawah Si Kidang.Ada beberapa kuliner yang bisa kami cicipi di pujasera kawah si Kidang , karena sudah hampir sore dari sekian banyak warung yang tersisa hanya warteg yang kami bisa temui.Seporsi nasi , segelas teh hangat dan beberapa camilan cukup merogoh kantong Rp4000,- .Sebelum masuk area kawah saya menyempatkann diri untuk membeli syall garis-garis seharga Rp10.000 bukan dililitkan di leher tapi di sekitar mulut dan hidung karena dari radius beberapa kilometer pun bau belerang sudah cukup menyengat.Kawasan kawah Si Kidang cukup luas , terkadang tempat letupan gas juga berpindah-pindah.Ada aliran sungai kecilyang sangat jernih dan segar airnya, dan lagi-lagi kami bertemu dengan turis asing kali ini dari Belanda .Bukti nyata bahwa kawasan dataran tinggi dieng tidak hanya diminati oleh wisatawan domestik namun juga manca negara.
Sekitar pukul 16.00 kami bertolak dari Wonosobo untuk kembali ke Semarang.Di tengah perjalanan belum jauh dari daerah Wonosobo kami menemukan sebuah area pemandian air panas dan outbond,dan Rp7000 pun tergilas untuk sekedar berendam di kolam air hangat melepas lelah ataupun berenang-renang di kolam dalam.Sebelum pukul 05.00 sore kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju Semarang karena khawatir kabut akan turun.Tepat pukul 21.00 rombongan kembali tiba di Semarang dengan selamat tidak berkurang ataupun bertambah.Jadi total biaya , bensin fulltank Rp15.000 ,makan padang Rp8000,tiket wisata Rp3000 , makan warteg Rp4000 , syall Rp10.000 , pemandian air hangat Rp7000 jadi total Rp47.000.
Meskipun masih banyak beberapa obyek wisata lain yang belum sempat dikunjungi seperti : Tuk Bimaa Lukar , kawasan candi dan beberapa kawah lainya sajian alam dataran tinggi memang memukau dan paten exo beautastic.
Naskah Oleh :
Suci Rizki Kasfitasari
Dr.Soetomo 4-6 Semarang
ID DPC : 16.03/16.04
Suci Rizki Kasfitasari
Dr.Soetomo 4-6 Semarang
ID DPC : 16.03/16.04
Kuliah kerja lapangan. Yap, satu mata kuliah yang menjadi favorit di fakultasku. Bagaimana tidak? Itu adalah kuliah sekaligus jalan-jalan. Bisa dimana saja, sesuai keinginan dan rencana para mahasiswa, asal dosen menyetujui dan dana mencukupi. Kuliah kerja lapangan sesi dua di jurusanku mencoba mengenal lebih dekat Kabupaten Wonosobo.
Kabupaten Wonosobo. Berdasar vote, pertimbangan lokasi, dan didukung pertimbangan dosen, berangkatlah kami ke Kabupaten Wonosobo, bulan Juli 2009. Menginap di gedung milik BKLN di kecamatan Leksono, hampir seminggu di kota orang, ngubek-ubek dari A sampai Z apa yang ada di sana. Hampir 100 orang, dibagi dalam bermacam-macam tema. Sosial. Wisata. Perkebunan. Kehutanan. Pertanian. Permukiman. Pertambangan. Tata ruang. Seminggu itu, kami berkutat di tema kami masing-masing. Banyak tema, banyak pemikiran, banyak hal baru, banyak rasa.
Dalam waktu yang hanya seminggu itu pula, banyak hal menarik yang tidak akan bisa ditemui di tempat lain kecuali hanya sedikit tempat tertentu. Mulai dari makanan khas, budaya, dan terutama tempat wisata. Kabupaten yang sangat sejuk, sederhana, memanjakan lidah, hati, dan mata.
Sejuk, sejuk, dan sejuk!!!
Pertama kali menginjakkan kaki di Wonosobo, hmm, dingin. Udaranya dingin. Nggak pagi, nggak siang, nggak malam, rasanya sejuk. Entah itu di kota, apalagi di atas dataran tinggi sana. Tiga hari pertama, tempat yang selalu dilewati bolak-balik ke sana kemari adalah Alun-Alun Wonosobo. Tepat di jantung kota Wonosobo, jalan yang ada di sana adalah jalan searah, sehingga ketika survey kami “terpaksa” melewatinya berkali-kali. Ada yang unik di sana. Kebetulan waktu itu adalah masa-masa pemilihan kepala daerah sekaligus ulang tahun Wonosobo (entah ulang tahun kota, entah kabupaten). Dan, ternyata setiap ulang tahun ada pesta balon udara di sana! Kami temui juga karnaval asyik di Kecamatan Garung.
Mari Makan!
Kalau pergi ke kota orang, kurang afdol rasanya kalau tidak mencicipi jajanan khas kota tersebut. Di sela-sela waktu survey kami, sebelum kembali ke penginapan, aku dan kelompokku menyempatkan diri mencari-cari, apa sih makanan yang unik di sini dan nggak ada di tempat lain? Kami culik pak sopir angkutan umum trayek Kecamatan Leksono yang setia mengantar kami kemana-mana. Mau tahu diantar ke mana? Warung Mi Ongklok! Mi Ongklok itu semacam mi yang dikuahin lalu dikasih sate sapi sebagai pelengkapnya, dan ditambah menu tempe kemul istimewa sebagai pelengkapnya. Apa lagi itu tempe kemul? Hmm, sebenarnya tempe ditepungin aja sih (kalau di Jogja namanya tempe mendoan), tapi rasanya tetep mak nyuss.
Sebenarnya ada lagi yang lain, jamur dan carica. Sayangnya, kita nggak sempat mencicip sate jamur dan aneka olahan jamur yang ada di Alun-alun kota, sudah kesorean . Selain jamur, ada carica. Carica itu buah khas Wonosobo, dikembangkan khusus di Dataran Tinggi Dieng. Buahnya lonjong, warnanya agak kuning. Biasa dibikin manisan. Lumayaan, waktu itu Rp 100.000,00 bisa dapat 12 kaleng carica yang nikmat.
Minuman khas Wonosobo? Ada teh Tambi. Lereng dataran tinggi Dieng dikembangkan sebagai kawasan perkebunan teh. Kebetulan teman kelompok lain mengambil daerah penelitian di areal perkebunan teh, dan hasilnya, pulang-pulang ke penginapan, bawalah dia teh berplastik-plastik. Lumayan sebagai teman ngeteh sambil melihat pemandangan Gunungapi Sindoro – Sumbing yang menawan dari loteng penginapan.
Mari Piknik!!!
Kelompok yang mendapatkan tema pariwisata adalah kelompok yang bisa bikin iri kelompok lain saat hari-H pelaksanaan kuliah lapangan. Kenapa? Karena obyek penelitian mereka adalah daerah-daerah wisata di Kabupaten Wonosobo. Dan dengan surat izin yang didapatkan, mereka bebas masuk ke beberapa tempat wisata, dan pastinya sudah sangat puas keluar-masuk tempat wisata tersebut, ketemu bermacam-macam turis dari berbagai negara pula! Sebenarnya kelompokku yang kebetulan mendapatkan tema sosial juga puas keluar masuk gratis juga sih, keluar masuk rumah warga sampai kekenyangan karena tiap masuk satu rumah pasti disuguhi minimal segelas air minum. Hoho.
Hari terakhir pelaksanaan kuliah lapangan merupakan waktu bebas untuk kami. Bebas. Ada yang tidur seharian di penginapan karena kelelahan setiap malam harus ada diskusi berkepanjangan. Ada juga yang masih mengurus ini itu karena data penelitian belum lengkap. Dan, mayoritas warga yang sudah nganggur memilih mengadakan piknik sehari sebelum pulang ke Jogja. Ke mana rute piknik kali ini? Mari kita menuju Telaga Warna, Kawah Sikidang, dan Candi Dieng!
Tiga titik persinggahan yang disebutkan tadi berada di Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau). Menakjubkan! Hampir 100% lahan di dataran tinggi tersebut sudah diolah. Sudah diolah sampai ke puncak-puncak bukit! Semua digunakan sebagai lahan pertanian, terutama pertanian kentang dan pertanian carica dengan membuat terasering di sana sini. Oke, sekarang aku bisa percaya kenapa di Dataran Tinggi Dieng sering terjadi longsor.
Kembali ke Telaga Warga dan Kawah Sikidang. Sebenarnya, Dataran Tinggi Dieng merupakan gunungapi yang masih aktif. Telaga Warna dan Kawah Sikidang adalah beberapa buktinya. Aktifitas vulkanik masih terus terjadi di sekitar tempat tersebut. Kalau sudah masuk ke kawasan Telaga Warna dan Kawah Sikidang, bau belerang yang sangat menyengat pasti langsung tercium. Telaga warna merupakan telaga dengan warna yang sangat menawan, hijau berkilau ditempa cahaya matahari, lengkap dengan latar belakang lanskap hutan pinus dan suhu yang sangat dingin.
Aktifitas vulkanik yang masih terus berlangsung di Dataran Tinggi Dieng masih terus diawasi sampai saat ini, kerena pada berpuluh-puluh tahun silam, sempat terjadi tragedi gas beracun dari Kawah Sinila yang membawa tak sedikit korban jiwa. Itu kami ketahui dari film dokumenter di museum Dieng. Dari film dokumenter itu juga dijelaskan kenapa suhu di Dieng bisa sangat ekstrim sewaktu-waktu (terutama saat subuh), bisa di bawah nol derajat celcius! Brr. Dari film itu pula, kami terkagum-kagum akan suku rambut gimbal dan tradisinya yang masih hidup menembus zaman sampai detik ini.
Terakhir, kami mampir di Candi Dieng. Letaknya agak di bawah perbukitan dengan suhu yang masih sejuk. Sekilas mengingatkan pada candi Prambanan di perbatasan Klaten – Sleman. Candi Dieng jauh dari hingar binger perkotaan. Itu letak perbedaannya. Masih terasa keasliannya walaupun tempatnya sudah ditata apik oleh pengelolanya.
Perjalanan berhari-hari di Wonosobo, sudah cukup untuk untuk membuat kami menyebutnya sebagai “kota kami”…
Naskah Oleh :
Putri Marulia S.
Pelemsewu RT 03/39 Panggungharjo, Sewon, Bantul 55188
ID DPC : 12.01/12.02
DIENGPLATEAU.COM - Di Indonesia banyak sekali tempat – tempat wisata yang sangat indah dan menakjubkan. Potensi alam yang luar biasa di Indonesia sangat besar dan takjub. Pemerintah pun mencanangkan visit Indonesia yang menawarkan berbagai tempat wisata di seluruh Indonesia untuk dikunjungi. Salah satu tempat wisata yang eksotis adalah dataran tinggi Dieng yang mempunya banyak tempat yang bias dikunjungi yaitu ada Kawah Sikidang, Telaga Warna, Telaga Pengilon, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Gatot Kaca, Candi Bima dan Museum Dieng Kaliasa, Dieng Plateau Theatre.
Pada saat saya dan teman – teman berlibur ke Dieng Wonosobo sungguh wonderful. Sangat bagus sekali pemandangannya meski pada waktu itu gerimis tetap begitu bagus sekali pemandangannya. Sebenarnya saya di ajak oleh teman – teman kampusku untuk bermaen ke rumahnya temen sekalian berlibur ke Dieng karena rumahnya daerah Wonosobo. Saya dan 3 orang temenku yaitu Anggit, Acef dan Iman berangkat dari Semarang ke Wonsobo dengan menggunakan sepeda motor sekitar pukul 08.00 WIB. Kurang lebih dari Semarang ke Wonosobo memakan waktu 3 jam dengan kecepatan ±60 km/jam. Tempat tujuan yang pertama adalah ke rumah teman kita yaitu Fiqih dan Damar yang memang rumahnya di Kalikajar Kabupaten Wonosobo. Sesampainya di Wonosobo sekitar pukul 10.15 WIB, kita langsung menuju ke rumah Fiqih untuk beristirahat sejenak sambil menikmati suasana rumah Fiqih.
Pada saat saya dan teman – teman berlibur ke Dieng Wonosobo sungguh wonderful. Sangat bagus sekali pemandangannya meski pada waktu itu gerimis tetap begitu bagus sekali pemandangannya. Sebenarnya saya di ajak oleh teman – teman kampusku untuk bermaen ke rumahnya temen sekalian berlibur ke Dieng karena rumahnya daerah Wonosobo. Saya dan 3 orang temenku yaitu Anggit, Acef dan Iman berangkat dari Semarang ke Wonsobo dengan menggunakan sepeda motor sekitar pukul 08.00 WIB. Kurang lebih dari Semarang ke Wonosobo memakan waktu 3 jam dengan kecepatan ±60 km/jam. Tempat tujuan yang pertama adalah ke rumah teman kita yaitu Fiqih dan Damar yang memang rumahnya di Kalikajar Kabupaten Wonosobo. Sesampainya di Wonosobo sekitar pukul 10.15 WIB, kita langsung menuju ke rumah Fiqih untuk beristirahat sejenak sambil menikmati suasana rumah Fiqih.
Malamnya kita jalan – jalan ke kota Wonosobo sambil membeli baju. Kemudian ke alun – alun Wonosobo untuk menikmati hidangan malam di situ. Kita pun membeli mie ongklok yang merupakan salah satu makanan khas Wonosobo. Banyak makanan khasnya selain mie ongklok juga ada Carica yang terbuat dari buah papaya dan banyak lagi. Setelah puas menikmati malam di Wonosobo, kita pun pulang. Tidak menginap di rumah Fiqih tetapi gentian di rumah Damar. Kita akhirnya menginap di rumahnya Damar. Dia adalah teman terbaikku yang selalu menemaniku di saat galau dan bimbang. Lebay ya?.
Setelah menginap sehari di situ. Keesokan harinya kita siap meluncur ke Dieng dengan di temenin Fiqih dan Damar. Pagi – pagi jam 8 kita berangkat dengan sayup – sayup hujan gerimis tapi tetap tidak mematahkan semangad ke Dieng karena saya belu pernah ke situ. Dari tempat temanku sampai ke Dieng kira –kira memakan waktu 1 jam. Setelah melewati jalanan yang berkelok kelok bagaikan seperti ular yang lagi berjalan kesungaii. Jalanannya sungguh mengerikan tetapi mengasyikkan dan penuh dengan tantangan, banyak tebing yang menjulang tinggi dan semua itu dapat teralihkan dengan pemandangan yang begitu natural dan mempesona. Dalam perjalanan pun kita menikmatinya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 1 jam sampailah kita di Dieng. Wow tempatnya begitu dingin dan sejuk serta masih natural. Menurut masyarakat setempat yang bercerita kepada kita bahwa nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "di" yang berarti tempat, dan "hyang" yang berarti dewa pencipta. Secara keseluruhan Dieng dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Sementara para penduduk sekitar sering mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata "edi" yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan "aeng" yang berarti aneh. Dengan kata lain Dieng adalah sebuah tempat yang cantik namun memiliki banyak keanehan.
Setelah sedikit bertanya kepada masyarakat setempat kita masuk ke tempat wisata Dieng dengan membayar tiket per orang Rp 15.000,- . Uang sebesar itu merupakan satu paket dengan beberapa obyek wisata yaitu Telaga Warna, Kawah Sikidang, Dieng Plateau Theatre,. Sebenarnya masih ada tempat – tempat yang lain tetapi di haruskan untuk membayar tiket lagi.
Setelah menginap sehari di situ. Keesokan harinya kita siap meluncur ke Dieng dengan di temenin Fiqih dan Damar. Pagi – pagi jam 8 kita berangkat dengan sayup – sayup hujan gerimis tapi tetap tidak mematahkan semangad ke Dieng karena saya belu pernah ke situ. Dari tempat temanku sampai ke Dieng kira –kira memakan waktu 1 jam. Setelah melewati jalanan yang berkelok kelok bagaikan seperti ular yang lagi berjalan kesungaii. Jalanannya sungguh mengerikan tetapi mengasyikkan dan penuh dengan tantangan, banyak tebing yang menjulang tinggi dan semua itu dapat teralihkan dengan pemandangan yang begitu natural dan mempesona. Dalam perjalanan pun kita menikmatinya.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 1 jam sampailah kita di Dieng. Wow tempatnya begitu dingin dan sejuk serta masih natural. Menurut masyarakat setempat yang bercerita kepada kita bahwa nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "di" yang berarti tempat, dan "hyang" yang berarti dewa pencipta. Secara keseluruhan Dieng dapat diartikan sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Sementara para penduduk sekitar sering mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata "edi" yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan "aeng" yang berarti aneh. Dengan kata lain Dieng adalah sebuah tempat yang cantik namun memiliki banyak keanehan.
Setelah sedikit bertanya kepada masyarakat setempat kita masuk ke tempat wisata Dieng dengan membayar tiket per orang Rp 15.000,- . Uang sebesar itu merupakan satu paket dengan beberapa obyek wisata yaitu Telaga Warna, Kawah Sikidang, Dieng Plateau Theatre,. Sebenarnya masih ada tempat – tempat yang lain tetapi di haruskan untuk membayar tiket lagi.
TELAGA WARNA
DIENG PLATEU THEATRE
Tempat selanjutnya adalah Dieng Plateu Theatre. Untuk mencapai kesana kita harus naik anak tangga. Satu per satu anak tangga kita lalui dan akhirnya kitasampai di sana. Kita pun membeli tiket sebesar Rp 4.000,- per orang untuk melihat sejarah keseluruhan Dieng dengan durasi ±30 menit. Setelah selesai kita beristirahat di situ sambil makan cemilan. Setelah merasa cukup, kita pun melanjutkan ke tempat Kawah Sikidang.
KAWAH SIKIDANG
CANDI ARJUNA, CANDI SEMAR, CANDI SRIKANDI, CANDI GATOT KACA, CANDI BIMA DAN MUSEUM DIENG KALIASA
JADI, ayo teman – teman di seluruh Indonesia mengunjungi dataran tinggi Dieng Wonosobo.
KEMBALI PULANG
Keesokan harinya kita pulang ke Semarang. Di dalam perjalanan kita membeli oleh – oleh khas Wonosobo yaitu Carica. Dalam perjalanan pulang kita mampir ke POM Bensin untuk mengisi bensin motor dan istirahat sambil shalat juga. Sebenarnya ada cerita lucu waktu itu, setelah selesai istirahat kita melanjutkan perjalanan dan sampai akhirnya kita berhenti untuk mengisi perut di Bandungan. Eh, ternyata handycamp temanku yaitu Sariman ketinggalan dengan tasnya sekalian di POM Bensin yang kita buat istirahat dan tempatnya itu masih di daerah Wonosobo. Oww tidak, kita semua tertawa di dalam penderitaan teman kita, hehe. Akhirnya kita memutuskan untuk kembali lagi ke sana untuk mengambil barang yang tertinggal dengan harapan tidak hilang atau di ambil orang. Dengan harap – harap cemas akhirnya sampai dan ternyata kita cari dimushollanya tidak ada. Karena kita mencari – cari ada pedagang yang di situ menanyakan ke kita, “ Dek, lagi mencari apa? Tanya pedagang itu. “Mencari tas yang ketingalan Bu” jawab Sariman yang ketinggalan tasnya.
Alhamdulillah, ternyata di simpen dan di amankan pedagang tersebut. Sariman pun lega dan memberikan uang ke pedagang tersebut. Alhamdulillah ya sesuatu, hehe. Akhirnya kita kembali meneruskan perjalanan dan sampai di Semarang sekitar pukul 20.00 WIB.
Itulah cerita yang saya dan temanku alami berwisata. Ada cerita lucunya, sedihnya, senangya, herannya, dan campu aduk. Ayo kita Visit and Loving Dieng Wonosobo.
Itulah cerita yang saya dan temanku alami berwisata. Ada cerita lucunya, sedihnya, senangya, herannya, dan campu aduk. Ayo kita Visit and Loving Dieng Wonosobo.
(ini ceritaku, bagaimana ceritamu?)
Naskah Oleh :
Trio Cahyanto
Perum. Wanamukti Blok E1 No.23
Perum. Wanamukti Blok E1 No.23
ID DPC : 04.02/04.03
Sungguh merupakan dosa besar kalau kita durhaka pada Ibu kita,tidak menghormati Istri kita, melecehkan teman perempuan kita, menyakiti perasaan perempuan apalagi menodai perempuan.
Kasih sayang Tuhan dapat terlihat jelas melalui kasih sayang ibu kita, simbok kita, biyung kita, mamak kita atau apapun bahasanya untuk menggantikan kata orang yang telah melahirkan dan mengasuh kita. Karena perempuan kita bisa seperti sekarang ini, dan itu semua bukan hal mudah untuk melakukannya.
Disisi lain banyak dari kaum laki-laki yang menganggap perempuan hanya alat untuk memuaskan kepentingan dirinya, memperbudak perempuan untuk memperoleh apa yang diharapkanya.
Perempuan akan semakin kuat apabila dia menghiasi dirinya dengan kelemahannya,perempuan akan kehilangan daya tariknya apabila dia terlalu berkuasa bahkan berusaha menguasai pria untuk menjadi bagian yang dapat memuaskan egonya, terkadang banyak juga perempuan yang menjerumuskan dirinya dalam lembah kehinaan dan menghilangkan nilai kemuliaanya karena materi semata.
Dalam soal beban dan pekerjaan, banyak juga kaum perempuan yang kekuatannya melebihi kaum laki-laki ,bahkan mereka mampu mengangkat dan menanggung beban yang lebih berat dari dirinya, didesa -desa kawasan Dieng saya sering sekali berada di tengah kelompok perempuan dan ibu -ibu dan sering saya sampaikan bahwa perbandingan pekerjaan antara kaum laki-laki dan perempuan sangat tidak seimbang karena kaum laki-laki bekerja tidak full time tapi kaum perempuan bekerja sejak terbitnya matahari sampai tenggelamnya mata bapak.
Perempuan perkasa ada disekitar kita, hanya saja kita terlalu sering melupakan mereka, terlalu sering menyakiti mereka, terlalu sering tidak memanusiakan mereka, padahal mereka adalah belahan hati kita, mereka adalah bidadari yang telah dikirim Tuhan ke bumi untuk mengurus dan mengasuh kita.
Keindahan dan kecantikan perempuan tidak hanya fisik semata, keperkasaan perempuan juga bukan fisik semata, Perempuan adalah hiasan bumi, semua hiasan pasti cantik adanya, tapi terkadang perempuan merusak dirinya sendiri dan menghilangkan kecantikan dirinya sebagai hiasan bumi. dan hiasan yang sudah rusak nilainya pun akan jatuh dan sangat murah.
Semua perempuan punya kecantikan tersendiri dengan berbagai karakter yang berbeda, keperkasaan perempuan juga cantik, perempuan berkulit hitam,putih,merah,kuning juga semuanya cantik, selama mereka tidak merusak daya dukung kecantikannya yang ada dihati dan mulutnya , selama kaum laki-laki dapat melihatnya dengan hati dan bukan hanya dengan mata, selama perasaan kaum laki-laki tidak hanya dikuasai birahi, selama kita semua dapat saling menghargai.
DIENGPLATEAU.COM - Berawal dari ajakan sepupuku Sidiq Bahtiar untuk pergi merasakan hawa dingin dataran tinggi Dieng yang ada di Wonosobo,Jawa Tengah.Terapi alam dadakan tanpa perencanaan ini kami jalani.Setelah sungkeman pada keluarga dan kerabat,kami berangkat dengan tekad.Dengan perlengkapan seadanya yang sekiranya berguna (sleeping bag,nesting,tenda dan pakaian).
Perjalanan kami mulai dengan rasa penasaran akan suasana Dieng.Dengan mengendarai sepeda motor melaju kncang,berpacu dengan waktu.Panas dan hujan yang bergantian mengiringi perjalanan kami dari Semarang sampai kawasan gunung Sindoro-Sumbing.Memberi warna pelangi di antara kedua gunung yang megah berdiri setelah hujan terhenti,terganti degan sinar mentari.
Sambil menikmati panorama alam yang jarang terjadi aku mulai memperlambat laju sepeda motorku.Lalu Diq menyuruhku untuk berhenti di depan sebuah gudang penyimpanan snack.Rupanya temen Diq ada yang berkerja di situ.Mampir sebentar silaturahmi sekalian maaf-maafan.Siapa tahu diberi snack buat bekal perjalanan.(hehehe,,,nagrep.com). Ah sayang,gudang lagi di kunci dan temen Diq gak ada shift jaga waktu itu.hmmm…..tak apalah,niatnya adalah silaturahmi.
Perjalanan kami mulai dengan rasa penasaran akan suasana Dieng.Dengan mengendarai sepeda motor melaju kncang,berpacu dengan waktu.Panas dan hujan yang bergantian mengiringi perjalanan kami dari Semarang sampai kawasan gunung Sindoro-Sumbing.Memberi warna pelangi di antara kedua gunung yang megah berdiri setelah hujan terhenti,terganti degan sinar mentari.
Sambil menikmati panorama alam yang jarang terjadi aku mulai memperlambat laju sepeda motorku.Lalu Diq menyuruhku untuk berhenti di depan sebuah gudang penyimpanan snack.Rupanya temen Diq ada yang berkerja di situ.Mampir sebentar silaturahmi sekalian maaf-maafan.Siapa tahu diberi snack buat bekal perjalanan.(hehehe,,,nagrep.com). Ah sayang,gudang lagi di kunci dan temen Diq gak ada shift jaga waktu itu.hmmm…..tak apalah,niatnya adalah silaturahmi.
Setelah ngobrol sebentar kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan.Semakin jauh meninggalkan kota semakin menanjak jalan di depan yang harus di lewati.Rupanya kami sudah memasuki kawasan Dieng Plateu.Kabut tebal dan hujan gerimis menyambut kedatangan kami. Menyuramkan pandanganku akan skitar jalanan.Menjelang maghrib kami sampai pada tujuan.Alhamdulillah,setelah perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya kami sampai juga.Memasuki area parkiran kami mulai bertanya pada pedagang tentang cuaca beberapa hari belakangan.Setelah berbincang-bincang sejenak kami di hampiri petugas penjaga loket yang waktu itu ada di deket warung.Pak petugas mulai menanyakan asal dan tujuan kami.Kamipun mengutarakan maksud kami ingin ngecamp di sekitar telaga warna.Tapi sayang,kami tidak di ijinkan,loket juga sudah tutup.Hehhhhhh,,,,rasa kecewa timbul karena tidak bisa menikmati kesunyian malam di telaga.Akhirnya kami tidur di mushola.Tak apalah,malah lebih hangat.Setelah istirahat sejenak,sholat maghrib & isya’ kami jamak.Perut kami mulai keroncongan karena hanya makan saat di rumah.Kuambil bungkusan plastik yang di berikan Angesti,kucoba melepas tali dan kulihat ada sesuatu yang di bungkus dengan kertas minyak.
Kubuka dan,,,,
waaaaaahhhhhhhhhhh,,,,
kakap!!!!!!
Laziesz,menu makan malam yang serasa sangat istimewa membuat perut kami kenyang (terima kasih Angesti).Setelah selesai makan malam kami istirahat sejenak sambil ngobrol-ngobrol seputar perjalanan kami.udara dingin semakin terasa menusuk tulang,memaksa kami masuk dalam sleeping bag.Perlahan kedua mataku mulai terpejam,terserat dalam ruang mimpi yang tak pasti.semakin jauh aku terlena dalam tiap sudutnya.
Aku terlelap,,,,,, Bunyi alarm HP membangunkanku,menariku dari dekapan mesra mimpi-mimpiku.Aku beranjak bangun dan keluar untuk wudlu.Hembusan angina dingin menghampiridi awal pagiku.Gemericik air kran sucikanku,bekukan angkuh & sombongku.Dengan langkah kecil menggigil aku masuk mushola,sholat subuh berjamaah dengan Diq.Berdoa & berterima kasih pada ALLAH SWT atas nikmat & keselamatan yang telah di berikan pada kami.Selesai sholat kami masak mie yang kami beli di warung pinggir jalan sebagai sarapan.Lalu packing dan mulai melangkah keluar menuju pintu masuk telaga warna.Rupanya bapak yang kemaren sudah menunggu kami,setelah membayar kami masuk sebagai pengunjung pertama hari itu.
Puas mengelilingi telaga kami melanjutkan perjalanan menuju komplek Candi Arjuna yang tidak begitu jauh letaknya.Sekitar 5menit kami sampai.ALLAHU AKBAR,,,
Bangunan tua agama Hindu yang masih terjaga berdiri megah di tengah alam nan damai. Setelah berjalan menghampiri komplek candi di bawah terik mentari,kami merasa lelah.Kami beristirat sejenak di bawah pohon cemara,sambil mendengarkan alunan musik kreatifitas penduduk lokal. AKU dan DIQ terhanyut dalm irama,rasa ingin mencoba memainkanya tak terelakkan.
hari mulai terasa panas,terik mentari mulai menyengat kulit, kami melanjutkan Perjalanan menuju Kawah Sikidang.Panas sangat terasa ditambah bau belerang yang menyesakan dada.Asap putih mengepul dari lubang kawah.Air dan tanah menjadi lumpur panas bergumpal –gumpal di masak perut bumi.Aku mencoba menikmati suasana,tapi dadaku terasa begitu sesak dengan bau belerang.Akhirnya q menjauh,berjalan turun melihat alm sekitar.Dan aku mulai lagi menikmati alam,meresapi setiap hembusan angin yang jarang,menghempas lamunanku.Rasa kagum,sukur dan seneng karena bias menikmati keindahan ciptaanNYA.Terdengar suara Diq memanggilku,mengajak turun dan pulang.Akhirnya kaipun meninggalkan kawasan DIENG PLATEAU.
hari mulai terasa panas,terik mentari mulai menyengat kulit, kami melanjutkan Perjalanan menuju Kawah Sikidang.Panas sangat terasa ditambah bau belerang yang menyesakan dada.Asap putih mengepul dari lubang kawah.Air dan tanah menjadi lumpur panas bergumpal –gumpal di masak perut bumi.Aku mencoba menikmati suasana,tapi dadaku terasa begitu sesak dengan bau belerang.Akhirnya q menjauh,berjalan turun melihat alm sekitar.Dan aku mulai lagi menikmati alam,meresapi setiap hembusan angin yang jarang,menghempas lamunanku.Rasa kagum,sukur dan seneng karena bias menikmati keindahan ciptaanNYA.Terdengar suara Diq memanggilku,mengajak turun dan pulang.Akhirnya kaipun meninggalkan kawasan DIENG PLATEAU.
Terima kasih Ya ALLAH,telah kau beri kesempatan pada kami untuk menikmati nuansa alam nan eksotik,tenang dan mempesona.
Naskah Oleh :
DANU PURNOMO
Tuban Kidul RT 04/05,Tuban,Gondangrejo,Karanganyar
ID DPC : 03.02/03.03
DANU PURNOMO
Tuban Kidul RT 04/05,Tuban,Gondangrejo,Karanganyar
ID DPC : 03.02/03.03
:: SAVE DIENG :: ~ We Just Want To Help ... ~
1. Mengapa Ada Longsoran ?
2. Monitoring Peredaran dan Penggunaan Pestisida
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
3. Mutualisme Pariwisata dan Pertanian, Sebuah Mimpi Singkronisasi
4. Sindoro Waspada !
5. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat
6. Pencitraan Pariwisata Melalui Peningkatan Kualitas Pengelolaan
7. Potensi Yang Tersembunyi
8. Sejarah Pengelolaan Situs
9. Upaya Mitigasi Bencana Gerakan Tanah
10. Ketugasan dan Kesiapan Aparat Dalam Menghadapi Bencana
11. Ada Pahlawan Diantara Kita
12. Penerapan Rotasi Tanaman Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
13. Dieng Perlu Sentuhan
14. Gelar Budaya Sebagai Pemikat Turis Asing
15. Kami Jamin Keamanan Anda Selama Berwisata
16. Kunci Utama Menaikkan Nilai Jual Tempat Wisata
17. Menemukan Kembali Mutiara Yang Hilang
18. Perempuan dan Pelestarian Dieng
19. Mengubah Paham Antroposentris Menjadi Ekosentris
20. Penanaman Pinus dan Kentang Secara Proporsional
















Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini.


2010 Dieng Plateau Tourism - News And Articles About Tourism, Culture In Dieng Plateau